Jepang Kini: Kemandirian Pangan

Melanjutkan pembicaraan sebelumnya.

Kemandirian pangan di Jepang itu bagaimana sih? Kemandirian pangan itu sendiri konon merujuk pada semua hal tentang produksi pangan yang dalam hal ini dilakukan oleh Jepang. Jepang terkenal dengan negara yang sangat proteksi terhadap beras dalam negerinya. (Tapi harus diakui bahwa beras Jepang itu rasanya memang jempolan he he he).

Kalau saya pergi ke supermarket, sering saya dapati sayur murah, ikan murah, daging murah…… eh ternyata hampir semuanya impor. Kalau sayur, ikan, daging, dll yang mahal…. itu pasti produksi dalam negeri Jepang. (Walaupun mahal, memang berkualitas sih)

Ternyata kemandirian (swasembada) pangan Jepang itu hanya 41%. Artinya barang-barang yang berhubungan dengan makanan di pasar Jepang itu yang produksi dalam negeri Jepang hanya 41%. Wah…. kalau Jepang tidak baik-baik dengan negara asal impor bahan makan bisa bahaya. Kalau terjadi perang, misalnya dengan Cina yang merupakan pengekspor besar bahan makanan ke Jepang, maka dipastikan berbuntut distopnya ekspor, kalau bahan makanan yang masuk ke Jepang distop, bagaimana Jepang mengisi perut masyarakat dan tentaranya. Bahaya kan.

Di ilustrasikan bahwa mie Jepang itu kemandirian pangannya hanya 23%. La bagaimana lagi, wong gandumnya impor juga. Hanya memang betul mengolahnya menjadi mie di Jepang, tapi bahannya kan dari luar. Apalagi udang, hanya 5%. Di pembicaraan itu dikemukakan juga bahwa bahan dari semangkuk tempura udon, yang berasal dari dalam negeri Jepang hanya 26%-nya. Terus diilustrasikan juga kalau makan siang hanya mengandalkan produksi dalam negeri maka hanya terdiri dari nasi, ikan kecil, dan ubi. Ini sekali makan ya. Kalau yang dimakan seperti itu katanya sama dengan makanan yang disajikan di restoran-restoran jaman Edo, weleh… weleh… weleh.

Tapi masyarakat Jepang sekarang kan bukan seperti pada jaman Edo. Sekarang masyarakat Jepang sudah banyak yang beralih ke steak, kalau makan pagi dengan roti dan keju, terus berbagai ramen juga dimakannya. La di antara makanan itu kan ndak ada nasinya. Dengan masuknya budaya makan yang seperti itu maka kebutuhan beras menurun.

Masalah beras di Jepang juga menjadi masalah yang cukup pelik. Konon masalah pertanian di negara manapun selalu mendapatkan perhatian nomor satu dari pemerintahnya. Di Indonesia bagaimana ya? La wong jadi petani di Indonesia tidak menjanjikan he he he. Enaknya jadi petani di Jepang. La gimana, harga beras di Jepang itu adalah yang tertinggi di Jepang, rata-rata 10 kali lipat dari harga beras di negara lain.

Konon ketika jaman perang, pemerintah menyuruh masyarakatnya untuk menanam padi sebanyak-banyaknya. Dan semua padi itu akan dibeli oleh pemerintah. Yah tahu sendirilah, untuk menyokong perang. Kalau prajuritnya maju perang tanpa makan mana bisa menang? Tapi setelah PD II Jepang tidak hanya makan beras. Seperti sudah disinggung di atas, masuklah makanan-makanan Eropa yang sama sekali tidak menyentuh bahan dari beras. Karena kelebihan beras, dan untuk menjaga harga beras agar tetap stabil (artinya tetap mahal, kasihan kan petaninya kalau berasnya dijual murah) maka pemerintah mengintruksikan kepada sebagian petani untuk tidak menanam padi. Dan sebagai gantinya pemerintah membayar ganti rugi kepada petani padi yang jumlahnya per tahun mencapai 2000 oku yen. Jumlah yang tidak sedikit. Enak to menjadi petani di Jepang?

Tapi sekarang banyak pemuda Jepang yang tidak mau jadi petani, maunya jadi sarariman saja. Ini menjadi permasalahan tersendiri di Jepang. Terus akibatnya, Jepang mengimpor beras dari luar. Tapi untuk tetap menjaga harga beras dalam negeri, Jepang mengenakan pajak masuk yang sangat tinggi. Dengan pajak masuk tinggi, maka beras imporpun harganya juga melambung to. Belum lagi biaya gudang penyimpanannya yang juga tinggi. Suhunya kan harus stabil, kalau musim panas didinginkan, kalau musim dingin dihangatkan, belum lagi biaya agar beras tidak bau apek atau digerogoti kutu beras to. Nah, masyarakat tinggal pilih beras yang mana? Dengan harga yang relatif sama, tapi beras Jepang kan lebih enak to.

Konon yang bisa mencapai kemandirian pangan mencapai 100% itu Perancis. Makanya Indonesia belajar ke Perancis saja agar bisa swasembada pangan.

Nagoya, Ramadhan 2009

Roni

About these ads

3 Tanggapan

  1. Sensei, bagi2 ilmunya sangat-sangat bermanfaat. jadi mengerti tentang kondisi Jepang sekarang ya. tulisan sensei enak dibaca..he..he..terima kasih…

  2. aku pesen bibit padi jepang ya. kapan hari udah mau coba tanam kerja sama dengan nihon jin eh gak jadi karena nihon jin nya meninggal

  3. dimana saya dapat beli benih padi jepang??? Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: