Hubungan Verba dan Partikel: Sudut Pandang Pembelajaran dari Indonesia

Berikut ini kopi-paste tulisan Roni (angkt 90) yang dimuat di Jurnal Inovasi Online Edisi Vol. 13/XXI/Maret 2009

Mohon maaf di sini setting-annya kurang bagus, bagi yang hendak membaca makalah dengan setting-an bagus dan mengeprintnya, silakan klik: http://io.ppijepang.org/article.php?id=299

Bagi yang mau download untuk referensi rombun, silakan masuk di halaman: http://io.ppijepang.org/article.php?edition=13

Tatabahasa bahasa Jepang yang lain bisa diklik di S  I  N  I

.

Abstrak

Dalam hubungannya dengan verba di dalam kalimat, Verhaar (1999) memperlakukannya sebagai konstituen induk. Verba sebagai konstituen induk mempunyai tugas melahirkan konstituen-konstituen yang lain. Konstituen tersebut secara gampangnya dalam kalimat disebut dengan nomina. Sifat-sifat (peran) nomina juga bergantung pada sifat yang dimiliki oleh verba sebagai induk. Dalam hubungannya dengan ini, peran nomina secara arti sintaksis baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jepang sama. Tetapi, secara bentuk sintaksis karena diwujudkan dalam bentuk partikel (adposisi) maka terdapat perbedaan dalam kedua bahasa tersebut. Dalam bahasa Jepang terdapat partikel ga (agen), o (pasien), dan wa (topik), tetapi ketiga peran tersebut (agen, pasien, dan topik) dalam bahasa Indonesia tidak diwujudkan dalam bentuk formal tertentu.

Kata-kata kunci: verba, partikel, preposisi, postposisi, morfosintaksis

1. Pengantar

Makalah pendek ini akan menelusuri prinsip dasar partikel atau yang dalam pengajaran bahasa Indonesia dikenal dengan istilah preposisi. Preposisi (Pr) atau kata depan merujuk pada keberadaan partikel di depan kata, sedangkan dalam bahasa Jepang partikel ini berada di belakang kata atau sering disebut postposisi (Po). Cara pandang terhadap partikel dalam makalah ini ditekankan pada sudut pandang orang Indonesia yang berbahasa ibu bahasa Indonesia, yang mempelajari bahasa Jepang sebagai bahasa keduanya.

Dalam mempelajari bahasa Jepang, khususnya ketika belajar tatabahasa bahasa Jepang kita sering dibingungkan oleh keberadaan partikel. Perhatikan contoh berikut.

(1) Lamijo memukul Bagus.

S                P            O

(2) Taro wa Jiro o naguru.

Taro Po     Jiro Po   memukul

S                O                 P

(3) Taro ga Jiro o naguru.

Sebagai pembelajar awal bahasa Jepang, ketika melihat contoh (2) kita akan mempermasalahkan tentang urutan S, P, dan O-nya yang memang berbeda, kemudian akan mempermasalahkan keberadaan partikel kasus wa dan o. Hal ini karena dalam bahasa Indonesia memang tidak ada partikel yang sejajar dengan itu, seperti terlihat pada contoh (1). Lebih lanjut, keberadaan partikel kasus wa (2) dapat digantikan oleh ga pada contoh (3). Berikut, partikel kasus ni dalam bahasa Jepang (4), sejajar dengan partikel kepada dalam bahasa Indonesia (5). Keduanya dapat disejajarkan, tetapi, kenapa dalam bahasa Indonesia tidak ada partikel yang maknanya sama dengan ga, o, dan wa dalam bahasa Jepang?

(4) Taro wa    Jiro ni    tegami o   kaku.

Taro        Jiro             surat    menulis

Taro menulis surat kepada Jiro.

(5) Lamijo menulis surat kepada Bagus.

Makalah pendek ini akan menjelaskan beberapa pertanyaan di atas, terutama dilihat dari sifat dan arti verba. Sebenarnya beberapa masalah ini dapat dijelaskan dengan bermacam-macam pendekatan. Makalah pendek ini dapat diposisikan sebagai salah satu alternatif pemecahan terhadap beberapa permasalahan di atas.

2. Konstruksi Kalimat

Pada bagian ini akan dijelaskan model konstruksi kalimat secara sintaksis menurut Muraki Shinjiro (1996: 137-138) secara ringkas. Ada dua model yang saat ini sangat dikenal dalam menilai konstruksi kalimat. Model pertama (6), bahwa kalimat atau sentence (S) terdiri dari frasa nomina (NP) dan frasa verba (VP). Frasa verba diisi oleh frasa nomina dan verba (V). Model ini dipakai oleh tatabahasa generatif. Model kedua (7), bahwa pusat kalimat adalah verba (V). Keberadaan dan jumlah frase nomina bergantung pada makna verba. Model ini dipakai oleh tatabahasa kasus.

Z

Pada model pertama, pembagian subjek dan predikat harus didahulukan, dan objek berada di dalam sub predikat. Sedangkan pada model kedua, predikat yang diisi oleh verba merupakan pusat kalimat. Subjek dan objek merupakan sub dari predikat. Makalah ini sebagaian besar akan menggunakan model kedua sebagai dasar analisisnya.

Fungsi predikat dalam bahasa bahasa ditampilkan dalam kategori kata yang berbeda-beda. Akan tetapi, secara umum berupa kategori verba, adjektifa, dan nomina[1]. Makalah ini hanya memusatkan perhatiannya pada verba. Dengan demikian, konstruksi kalimat berpusat pada fungsi sintaksis yang dinamakan predikat, dan predikat tersebut diisi oleh kategori sintaksis yang disebut verba. Keberadaan subjek dan objek semata-mata -tergantung pada makna atau sifat verba.

3. Predikat dan Pelengkap

Seperti sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa yang berperan sebagai pusat dalam konstruksi kalimat adalah predikat. Slot predikat ini diisi verba. Dengan kata lain, kalau dilihat dari keseluruhan konstruksi kalimat, verba merupakan pusat kalimat. Keberadaan konstituen seperti subjek, objek, dan keterangan (dalam tatabahasa tradisional Indonesia) bergantung pada arti atau sifat yang melekat pada verba. Sebagai lawan istilah predikat, terdapat istilah seperti subjek, objek, dan keterangan. Pada makalah ini untuk menunjuk pada tiga buah istilah yang disebut belakangan digunakan istilah pelengkap. Istilah ini untuk menerjemahkan istilah hogo (補語) dalam bahasa Jepang. Pada sub ini akan dijelaskan hubungan antara predikat dan pelengkap.

Muraki Shinjiro (1996: 138-141) menerangkan secara sederhana hubungan antara pelengkap dan predikat dalam empat level.

1. Level arti

2. Level bentuk

3. Level fungsi

4. Level penyampaian

Level pertama adalah level arti secara sintaksis. Level arti merupakan hubungan arti pelengkap terhadap predikat. Hubungan tersebut sejajar dengan kasus dalam (lawan: kasus luar) yang terdapat pada tatabahasa kasus. Dalam linguistik Indonesia, kasus dalam sering disebut juga dengan peran sintaksis atau peran saja. Perhatikan contoh (3a), Taro ga berperan sebagai agen (pelaku) dan Jiro o berperan sebagai pasien (penderita/pengalam). Pada level ini baik dalam bahasa Jepang maupun dalam bahasa Indonesia tidak ada perbedaan. Misalnya, pada contoh (1a) Lamijo berperan sebagai agen dan Bagus sebagai pasien.

(3a) Taro ga Jiro o naguru.

agen    pasien

(1a) Lamijo memukul Bagus.

agen                          pasien

Level kedua adalah level bentuk secara sintaksis. Level ini sebenarnya berhubungan dengan bentuk formal (kasus luar) secara morfosintaksis yang menempel pada pelengkap, dan membentuk konstruksi frasa. Bentuk formal inilah yang disebut dengan partikel kasus atau partikel saja. Pada contoh (3a), partikel ga dalam Lamijo ga adalah partikel yang menyatakan peran agen (kasus dalam), dan o dalam Bagus o adalah partikel yang menyatakan peran pasien (kasus dalam). Peran pada pelengkap yang menyatakan hubungannya dengan predikat di antaranya adalah peran agen (ga), pasien (o), penerima (ni), asal (kara), arah (e), kebersamaan (to), perbandingan (yori), lokasi (de) (Muraki Shinjiro (1996: 139). Dalam bahasa Indonesia terdapat bentuk formal (partikel) yang menyatakan peran-peran seperti penerima (ni=kepada), asal (kara=dari), arah (e=ke), kebersamaan (to=dengan), perbandingan (yori=daripada), lokasi (de=di). Akan tetapi, tidak memiliki bentuk formal yang menyatakan peran agen (ga) dan pasien (o), baik dalam bahasa tulis maupun bahasa lisan.

Permasalahan yang berhubungan dengan morfosintaksis ini dapat dipecahkan dari sudut pandang kasus bertanda (marked) dan kasus tak bertanda (unmarked). Artinya, peran agen dan pasien dalam bahasa Indonesia merupakan kasus tak bertanda: tidak diwujudkan dalam bentuk formal (partikel) tertentu[2]. Bandingkan contoh (3b) dan (1b).

(3b)     Taro ga Jiro o naguru.

agen:bertanda pasien:bertanda

(1b)      Lamijo memukul Bagus.

agen:tak bertanda                                          pasien:tak bertanda

Terhadap dua level ini, Iori Isao (2001: 61) menjelaskan bahwa kasus sebagai bentuk formal pada level arti sintaksis disebut kasus luar, dan kasus sebagai arti pada level bentuk formal sintaksis disebut kasus dalam. Posisi kasus luar jika dilihat dari sudut pandang frasa nomina, dalam bahasa Jepang dinamakan postposisi (Po) karena posisinya sesudah nomina, misalnya kasus ni pada frasa nomina Tanaka ni. Sebaliknya, kasus luar dalam bahasa Indonesia karena posisinya sebelum nomina maka disebut preposisi (Pr), misalnya kasus kepada pada frasa nomina kepada Tanaka.

Level ketiga adalah level fungsi secara sintaksis. Level ini secara umum dinamakan subjek (S), predikat (P; sering disingkat dengan V, verba), objek (O) dan keterangan (K; dalam tatabahasa tradisional). Pada contoh (3c) misalnya, naguru adalah predikat, Taro ga subjek, dan Jiro o objek. Pada level ini, juga terdapat contoh dalam bahasa Indonesia – (1c). Jadi, keduanya tidak ada perbedaan pada masalah kasus dalam.

(3c)  Taro ga Jiro o naguru.

subjek       objek     predikat

(1c) Ali memukul Norton.

subjek   predikat         objek

Terakhir, level keempat adalah level penyampaian secara sintaksis. Level ini erat hubungannya dengan model kalimat yang pertama seperti dijelaskan pada sub bagian 2 di atas. Kalimat tersusun dari dua bagian. Bagian pertama adalah bagian yang diceritakan, sering disebut topik/tema. Dan bagian kedua adalah bagian yang menceritakan yang disebut komen/rema. Dalam bahasa Jepang misalnya, salah satu tugas partikel wa (8) adalah sebagai penanda topik secara bentuk (Muraki Shinjiro, 1996: 140). Secara ekstrim dapat dikatakan bahwa frasa nominal yang dilekati wa dalam kalimat merupakan bagian topik. Bagian topik ini biasanya diletakkan di awal kalimat. Seperti contoh (8a) bagian kalimat yang lainpun memungkinkan untuk dapat bertugas sebagai topik.

(8)  Taro wa pan o tabeta.

topik      komen

(8a) Pan wa Taro ga tabeta.

topik      komen

Pada level ini bahasa Indonesia tidak mempunyai bentuk formal yang mempunyai tugas sebagai penanda topik seperti wa. Misalnya pada Taro (9) dan roti (9a) tidak terdapat bentuk formal yang menyatakan topik. Dalam bahasa lisan bunyi suprasegmental yang berupa pemberhentian sesaat pada pengucapan kalimat itu mungkin dapat menjadi penanda topik. Akan tetapi, di sini dapat dikatakan secara ekstrim bahwa dalam bahasa Indonesia tulis tidak terdapat penanda topik; topik dalam bahasa Indonesia merupakan kasus tak bertanda (unmarked). Di lain pihak, topik dalam bahasa Jepang merupakan kasus bertanda (marked).

(9)  Taro sudah  makan   roti.

topik           komen

(9a) Roti sudah  dimakan  Taro.

topik           komen

Dalam empat level ini, baik dalam bahasa Jepang maupun dalam bahasa Indonesia terdapat ragam permasalahan, tetapi dalam makalah ini hanya akan dijelaskan secara garis besar saja. Makalah ini menggunakan kerangka berpikir pada level kesatu, kedua, dan ketiga. Sedangkan, level keempat tidak digunakan karena berhubungan dengan partikel sekunder[3].

Kemudian akan ditambahkan dalam tulisan ini tentang kategori sintaksis, atau lebih dikenal dengan jenis kata. Seperti sudah disinggung di depan bahwa jenis kata yang dapat mengisi predikat bahasa Jepang secara umum adalah verba, adjektifa (i adjektifa dan na adjektifa) dan nomina. Sedangkan jenis kata yang mengisi subjek dan objek adalah nomina. Koizumi Tamotsu (1993: 164-167) memerikan jenis kata dalam bahasa Jepang yaitu verba, nomina, i adjektifa, na adjektifa, keterangan, partikel, bantu kerja, sambung, dan seru.

Empat level hubungan antara predikat dan pelengkap, serta jenis kata yang ditambahkan terakhir, secara ringkas dapat ditampilkan sebagai berikut:

level jenis
arti

bentuk

fungsi

penyampaian

jenis kata

agen, pasien, penerima,…

ga (agen), o (pasien), ni/kepada (penerima),…

predikat, pelengkap (subjek, objek, keterangan)

topik, komen

nomina, verba, adjektifa, …

.

4. Predikat Verba

Seperti sudah disinggung di sub bagian 2 bahwa pusat kalimat adalah predikat. Keberadaan frasa nomina, frasa keterangan dan lain-lain menjadi subordinatif terhadap predikat yang diisi verba.

Pada level fungsi sintaksis sebagai lawan predikat adalah subjek, objek, dan keterangan yang selanjutnya akan disebut pelengkap saja. Pada contoh (10), predikat diisi oleh verba tataita (memukul). Sebagai lawannya terdapat pelengkap sanjikanme ni (pada jam tiga), kyooshitsu de (di kelas), sensei ga (guru), Hanako o (Hanako), dan kyookasho de (dengan buku pelajaran). Secara berurutan peran sintaksisnya menyatakan waktu, tempat, agen, pasien, dan alat. Bentuk formalnya secara sintaksis dinyatakan dengan ni, de, ga, o, dan de. Serta, fungsi sintaksisnya secara berurutan pula adalah frasa keterangan waktu, frasa keterangan tempat, subjek, objek, dan frasa keterangan alat. Semua pelengkap ini melengkapi atau membatasi isi yang dinyatakan oleh verba tataita pada predikat.

(10) Sanjikanme ni kyooshitsu de sensei ga hanako o kyookasho de tataita[4].

Guru memukul Hanako dengan buku pelajaran di kelas pada jam tiga.

Dalam hubungannya dengan ini, Verhaar (1999: 164) mengatakan bahwa verba sebagai pusat kalimat merupakan konstituen induk. Sebagai konstituen induk, verba akan melahirkan konstituen lain. Dengan kata lain, keberadaan konstituen dalam kalimat -tergantung pada watak atau arti yang dimiliki oleh verba. Seperti keberadaan induk (ibu) yang sering disejajarkan dengan keberadaan anak, maka predikat pun dapat disejajarkan dengan pelengkap. Akan tetapi, pada pelengkap kalimat (10) sanjikanme ni, kyooshitsu de, sensei ga, Hanako o, dan Kyookasho de, terdapat pelengkap yang kehadirannya memang dilahirkan oleh predikat tataita, dan ada pelengkap yang kehadirannya tidak dilahirkan oleh predikat tataita.

Berdasarkan sifat keberadaan pelengkap terdapat jenis pelengkap yang sifatnya diperlukan dan pelengkap yang sifatnya tidak diperlukan. Dalam hubungannya dengan ini akan dianalisa berdasarkan  penjelasan Iori Isao (2001: 63). Berikut ini bentuk pengujiannya dengan menggunakan contoh kalimat (10).

(10)  Sanjikanme ni kyooshitsu de sensei ga hanako o kyookasho de tataita.

(10a)  ( Ø )   kyooshitsu de sensei ga hanako o kyookasho de tataita yo.

(10b) Sanjikanme ni ( Ø ) sensei ga hanako o kyookasho de tataita yo.

(10c) Sanjikanme ni kyooshitsu de ( Ø ) hanako o kyookasho de tataita yo.

(10d) Sanjikanme ni kyooshitsu de sensei ga ( Ø ) kyookasho de tataita yo.

(10e) Sanjikanme ni kyooshitsu de sensei ga hanako o ( Ø ) tataita yo.

(11)  Sore wa komatta koto da ne.

(12a) Ee, dare ga (tataita no)?

(12b) Ee, dare o (tataita no)?

Untuk mendapatkan tanggapan seperti kalimat (11), apakah kalimat berita atau pernyataan (10a)-(10e) dapat diterima? Jawaban tersebut memungkinkan digunakan untuk menanggapi kalimat pernyataan (10a), (10b), dan (10e). Akan tetapi, sulit untuk menanggapi (10c) dan (10d). Dengan kalimat pernyataan (10c) dan (10d) justru akan menimbulkan pertanyaan masing-masing secara berurutan seperti kalimat (12a) dan (12b). Dengan demikian, watak atau arti verba tataita (memukul) menuntut hadirnya peran agen seperti pada sensei ga dan peran pasien seperti pada Hanako o. Jadi, keberadaan sensei ga dan Hanako o diperlukan. Dua pelengkap inilah yang kehadirannya memang dilahirkan oleh sifat atau arti verba tataita. Sebaliknya, frasa sanjikanme ni, kyooshitsu de, dan kyooshitsu de, kadar sifat kebutuhannya rendah, dihapus pun tidak menjadi masalah. Artinya, dalam kalimat yang berpredikat verba tataita pada kalimat (10), konstituen sensei ga dan Hanako o menjadi konstituen minimal yang harus ada (diperlukan; wajib ada). Sebaliknya, sanjikanme ni, kyooshitsu de, dan kyooshitsu de menjadi pelengkap tambahan saja yang keberadaannya boleh dihilangkan (tidak diperlukan). Pelengkap yang terakhir inilah yang kehadirannya tidak dilahirkan oleh sifat atau arti verba tataita.

5. Sudut Pandang Pembelajar dari Indonesia

Demikianlah, telah dijelaskan keberadaan partikel (khususnya partikel kasus) dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. Selanjutnya, bagaimana memahami hal ini bagi pembelajar bahasa Jepang yang berbahasa ibu bahasa Indonesia? Pada bagian ini akan diurutkan cara memahami keberadaan partikel pada kedua bahasa tersebut.

Pemahaman dapat dimulai dari penjelasan yang sifatnya universal (abstrak) yang berlaku pada semua bahasa menuju ke penjelasan bagian yang sifatnya konkrit yang berlaku pada masing-masing bahasa. Pertama, hampir semua bahasa mempunyai konstituen yang disebut subjek, predikat, dan objek. Sebagai pusatnya adalah predikat (P; secara -universal sering digunakan singkatan V, verba). Sebagai lawan predikat terdapat subjek (S) dan objek (O) yang disebut pelengkap. Dalam hal ini, bahasa Indonesia urutannya SVO (SPO), dan bahasa Jepang SOV (SOP).

Pengisi predikat masing-masing bahasa berbeda, tetapi secara umum diisi oleh verba. Sebagai konstituen induk, verba mempunyai tugas penting dalam kalimat, yaitu melahirkan anak yang disebut nomina atau frasa nomina. Anak inilah yang bertugas sebagai konstituen lain di luar verba. Watak yang dimiliki oleh verba sebagai induk juga diwariskan kepada kostituen lain. Konstituen inilah yang secara fungsi sintaksis disebut dengan subjek dan objek, yang oleh Verhaar disebut dengan konstituen inti. Jadi, peran konstituen yang mengisi subjek dan objek yang bersifat inti (wajib ada) tersebut bergantung pada predikat verba sebagai konstituen induk. Selain itu, dalam istilah kekeluargaan juga terdapat anak pungut yang tentu saja wataknya tidak diwariskan secara genealogi oleh ibu angkat si pengasuh. Konstituen yang keberadaannya seperti watak anak pungut ini dapat disejajarkan dengan frasa keterangan dalam kalimat. Konstituen yang disebut belakangan ini bersifat tidak inti atau periferal (tidak wajib ada).

Jenis kata yang menjadi pusat kalimat adalah verba. Verba diikuti oleh frasa nomina. Jumlah frasa nomina yang dilahirkan bergantung pada watak atau arti yang dimiliki oleh verba. Misalnya, verba okiru atau bangun melahirkan satu frasa (misalnya watashi ga/saya); verba taberu/makan melahirkan dua frasa nomina (watashi ga dan pan o/saya dan roti); verba okuru/mengirimi diikuti oleh tiga frasa nomina (watashi ga, Hanako ni, dan tegami o/saya, Hanako, dan surat)[5].

Frasa-frasa nomina ini berbeda dipandang dari urutannya. Jika terdapat satu buah frasa, bahasa Indonesia menempatkannya sebelum verba (13). Jika terdapat dua buah frasa, akan ditempatkannya sebelum verba satu buah dan sesudah verba satu buah (15). Dan jika terdapat tiga buah frasa, satu buah ditempatkan sebelum verba dan dua buah lainnya setelah verba (17). Tetapi bahasa Jepang menempatkan semua frasa nomina sebelum verba (14, 16, 18).

(13)  Saya bangun.

(14)  Watashi ga okiru.

(15) Saya makan     roti.

(16) Watashi ga pan o taberu.

(17)  Saya mengirimi   Hanako surat.

(18) Watashi ga Hanako ni tegami o okuru.

Semua nomina pada contoh (13)-(18) merupakan pelengkap inti (konstituen inti) yang keberadaannya diperlukan oleh masing-masing verba sebagai konstituen induknya. Di luar pelengkap inti tersebut dapat ditambahkan pelengkap tambahan yang bersifat periferal (konstituen periferal). Misalnya pada (15) dan (16) masing-masing bisa ditambahkan di restoran dan resutoran de.

Dipandang dari jenis kata atau kategori sintaksisnya, urutannya dalam bahasa Indonesia adalah (13) NV, (15) NVN, dan (17) NVNN. Sedangkan dalam bahasa Jepang secara berurutan adalah (14) NV, (16) NNV, dan (18) NNNV. Dipandang dari fungsi sintaksisnya dalam bahasa Indonesia secara berurutan adalah (13) SP, (15) SPO, dan (17) SPOO; dan dalam bahasa Jepang -adalah (14) SP, (16) SOP, dan (18) SOOP. Selanjutnya, dipandang dari arti atau peran sintaksisnya, saya (13, 15, 17) dan watashi ga (14, 16, 18) berperan agen; roti (15), pan o (16), surat (17), dan tegami o (18) berperan pasien; Hanako (17) dan Hanako ni (18) berperan penerima atau benefaktif. Dengan demikian, dipandang dari peran sintaksis (dalam hal ini kasus dalam) baik bahasa Indonesia maupun bahasa Jepang tidak ada perbedaan. Perbedaannya terletak pada partikel atau bentuk formal sintaksisnya (dalam hal ini kasus luar). Dalam bahasa Jepang peran agen, pasien, dan penerima merupakan kasus bertanda (marked) yang masing-masing diwujudkan oleh partikel ga, o, dan ni. Sedangkan, dalam bahasa Indonesia merupakan kasus tak bertanda (unmarked) [6]. Apakah semua peran sintaksis dalam bahasa Indonesia merupakan kasus tak bertanda? Perhatikan contoh berikut.

(19) Saya    datang    dari Surabaya

(20)  Saya    pergi   ke Jakarta dengan Hanako

Pada contoh (19) dari Surabaya dan (20) ke Jakarta dan dengan Hanako terdapat partikel dari, ke, dan dengan yang merupakan kasus bertanda dengan peran-perannya masing-masing adalah asal, arah, dan kebersamaan, serta sejajar dengan kara, e, dan to dalam bahasa Jepang. Dengan demikian, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jepang terdapat kasus bertanda dan tak bertanda. Pada kasus bertanda (partikel), urutannya dengan nomina segera dapat dimengerti bahwa bahasa Indonesia dan bahasa Jepang berlawanan. Bahasa Indonesia menempatkan partikelnya di depan nomina (preposisi), sedangkan bahasa Jepang menempatkan partikelnya di belakang nomina (postposisi). Tanpa melihat posisinya terhadap nomina, kedua partikel tersebut disebut dengan adposisi.

6.Penutup

Demikianlah, partikel kasus dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia dapat dipahami mulai dari penjelasan yang sifatnya abstrak menuju penjelasan yang sifatnya konkrit. Seperti sudah disinggung di sub pengantar bahwa hubungan antara verba dan partikel dapat dijelaskan dengan beberapa cara. Makalah ini juga harus diposisikan hanya sebagai salah satu cara tersebut. Setidaknya menurut penulis, penjelasan ini relatif mudah dipahami bagi pembelajar bahasa Jepang yang berbahasa ibu bahasa Indonesia.

Referensi

Hasan Alwi et al. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Isao, Iori. 2001. Atarashii Nihongo Nyuumon, Kotoba no Shikumi o Kangaeru. 3A Network

Keizoo, Saji 1996. Nihongo no Bunpoo no Kenkyuu. Hitsuji Shoten

Shinjiro, Muraki. 1996. Nihongo Dooshi no Shosoo. Hitsuji Shoten

Takashi, Katsumata. 2006 “Anata Nashi de Irarenai, Jutsugo to Koo” dalam Nagoya Daigaku Nihongo Kenkyuukai GA6 Fushigi Hakken! Nihongo Bunpoo. Miyai Shoten

Tamotsu, Koizumi. 1993. Nihongo Kyooshi no tame no Gengogaku Nyuumon. Hitsuji Shoten

Verhaar. JWM. 1999. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press


[1] Dalam bahasa Jepang, berdasarkan kategori kata yang mengisinya, predikat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu predikat verba, predikat adjektiva, dan predikat nomina (Saji Keizo, 1996: 30-31). Dalam bahasa Indonesia, konstituen yang dapat mengisi predikat dalam model konstruksi subjek-predikat, selain verba dan adjektifa, terdapat pula nomina, numera, dan preposisi (Hasan Alwi et al. 2003: 326).

[2] (a) Kasus pada morfosintaksis ini, dalam bahasa lisan baik bahasa Jepang maupun bahasa Indonesia kadang-kadang dihilangkan. Dalam hubungannya dengan ini, Muraki Shinjiro (1996: 144) menggunakan istilah kasus zero. Sebenarnya kasus zero ini tidak hanya terdapat dalam bahasa lisan. Misalnya ichijikan dan san kiro dalam kalimat bahasa tulis ichijikan kakaru dan san kiro fueta juga merupakan kasus zero. Keduanya tak bertanda.

(b) Muraki Shinjiro (1996: 143) menjelaskan bahwa kemampuan distribusi verba dibedakan dua level, yaitu pada level arti sintaksis dinamakan kemampuan distribusi secara isi, dan pada level bentuk sintaksis dinamakan kemampuan distribusi secara bentuk formal. Kemampuan distribusi secara isi mempunyai sifat keuniversalan, sedangkan secara bentuk formal berlaku ketentuan yang berbeda-beda pada masing-masing bahasa.

[3] Untuk mudahnyanya, istilah partikel sekunder ini dipakai untuk menerjemahkan kakari joshi (係助詞) dalam bahasa Jepang.

[4] Diambil dari Katsumata Takashi (2006: 33-34).

[5] Jumlah nomina yang mengikuti verba yang disebut valensi verba ini menjadi permasalahan yang menarik jika melakukan perbandingan antar bahasa. Perhatikan perbedaan verba mengirim dan mengirimi dalam bahasa Indonesia bandingkan dengan verba okuru dalam bahasa Jepang.

[6] Partikel yang mengungkapkan makna penerima (benefactive) secara formal dalam bahasa Indonesia adalah kepada. Tetapi, jika kepada dimasukkan dalam kalimat (17) Saya mengirimi kepada Hanako surat, maka kadar keberterimaannya menjadi sangat rendah.

Salam,

Pak Lurah

.

Berikut Makalah Roni yang lain.

Makalah ini dipresentasikan di Seminar: Penelitian Kerjasama (共同研究) antara Nagoya University dengan Reitaku University, Tokyo. Silakan klik: reitaku-daigaku-nagoya-daigaku


Tulisan Roni yang lain bisa diklik di S  I  N  I.

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: