Cebok dan Tangan Kiri

Mohon maaf kalau kali ini saya bercerita tentang sesuatu yang sedikit jorok. Tapi jorok atau tidaknya sebenarnya tergantung ke persepsi kita. Ini semua hanya salah satu masalah kecil dalam pembicaraan frem budaya Jepang dan Indonesia.

Beberapa waktu yang lalu ketika ikut borantia pengumpulan dana untuk beasiswa anak-anak Indonesia, saya bertemu dengan seorang teman lama. Dia bercerita bahwa dia diundang untuk mengajar bahasa Jepang di Indonesia. Rupa-rupanya dia kuatir sekali dengan keadaan toilet di Indonesia.

Seperti sudah kita ketahui bersama bahwa orang Jepang kalau cebok memakai kertas tisu dan sebaliknya kita menganggap bahwa kalau hanya dengan tisu kurang bersih, yang bersih itu ya cebok pakai air. Di sini terjadi semacam perbedaan pandangan tentang arti bersih dalam hubungannya dengan cebok-mencebok itu. Di satu pihak dalam pandangan kita kalau hanya dengan tisu itu tidak bersih tapi sebaliknya bagi orang Jepang justru kalau kena air akan “beta-beta” kotor. Dalam Islampun rupanya ada semacam “derajat” bahwa kalau berwudhu ya pakai air, kalau ndak ada air ya bertayamum entah pakai pasir atau debu. Kalau tisu dapat kita sejajarkan dengan pasir maka tisu itu derajatnya lebih rendah daripada air. Tapi pikiran pembaca jangan dibawa kearah cebok dengan pasir ya he he he.

Selain itu, jangan sekali-kali menjelaskan kepada teman Jepang kita untuk membuang tisu ke toilet di Indonesia, bisa berakibat fatal. Toilet macet. Saya ndak tahu, mungkin konstruksi saluran toilet ke tempat pembuangan berbeda antara Jepang dan Indonesia. Di masyarakat umum Indonesia, toilet memang tidak didesaign untuk dapat dibuangi tisu.

Kembali ke laptop. Setelah saya jelaskan kenapa orang Indonesia mantap bercebok dengan air dan terasa bersih seperti di atas, teman Jepang saya itu memakluminya. Toh juga dihanduki, mungkin dia mencernanya seperti itu. Satu lagi yang membuat jijik dalam sudut pandang budaya Jepang adalah bersentuhannya secara langsung antara tangan dan bokong (maaf untuk mengganti istilah dubur). Seperti kita ketahui juga bahwa Jepang berusaha menghindari memegang makanan dengan tangan secara langsung, melainkan sebisa mungkin memakai sumpit. Oleh karena itu, kebanyakan orang Jepang sulit menerima kebiasaan makan dengan tangan. Pikirku kalau dibayangkan saja memang demikian, tapi sudah banyak pula orang Jepang di Indonesia yang bisa merasakan enaknya makan dengan tangan.

Demikian juga, dunia sentuh menyentuh ini juga berlaku dalam hal cebok. Jangan sampai tangan menyentuh bokong secara langsung. Diutarakannya bahwa kalau orang Indonesia kalau cebok, sambil menyiram air kan tangan bersentuhan langsung dengan bokong untuk membersihkannya. Orang Jepang berusaha menghindari hal ini. Oleh karena itu, digunakanlah tisu untuk membatasi diantaranya. Mungkin dalam sudut pandang kita, pakai tisupun kan tetap tangan bersentuhan dengan bokong, meskipun secara tidak langsung he he he.

Nah untuk menjauhkan atau meminimalkan peran tangan terhadap bokong ini, Jepang sudah mengembangkan tehnologi toilet duduk yang serba otomatis. Lihat saja di rumah-rumah,  manshion-manshion modern ataupun kampus, toiletnya sudah dilengkapi dengan peralatan yang juga modern. Sayapun sering membayangkan jika toilet kampus itu ada di apartemen saya betapa nikmatnya he he he. (Maklum apartemen saya apartemen tua)  Dengan sekali sentuh kotoran di WC mengalir sendiri, dengan sekali sentuh pula ada air muncrat yang tertuju ke bokong kita untuk membersihkannya, tanpa perlu mendekatkan jari jemari kita ke bokong, kekencengan airnyapun bisa diatur. Tidak itu saja, untuk mengeringkannya juga cukup sekali sentuh WC duduk itu akan mengeluarkan hawa hangat untuk mengeringkan air yang masih nempel di bokong. Kalau musim dingin tiba, kita malas untuk membuka sebagian penutup tubuh kita. Tidak demikian halnya dengan toilet ini. Begitu kita duduk, hawa hangat juga keluar secara otomatis memenuhi ruang dalam badan toilet duduk ini. Luar biasa bukan………..

Kembali ke laptop. Tangan bersentuhan ke bokong dan akibatnya kotor adalah hanya persepsi saja.  Persepsi yang sudah membudaya. Toh setelah kita cebok, tangan juga kita cuci dengan sabun pula. Tapi memang persepsi kotor ini tetap akan mengelabuhi pikiran orang Jepang dan juga orang Indonesia. La bagaimana tidak, sejak kecil kita sudah diajari oleh orang tua kita untuk membedakan peran antara tangan kiri dan tangan kanan. Tangan kanan untuk makan, untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Jangan pernah memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kiri kita, tidak sopan. Iya to. Sebaliknya tangan kiri punya peran utama untuk cebok itu tadi, dan karena berhubungan dengan cebok maka tangan kiri kita anggap derajatnya lebih rendah daripada tangan kanan. Akibatnya yang berhubungan dengan tangan kiri dipersepsikan tidak sopan, menghina, dan hal jelek sejajar lainnya. Kita sudah berlaku tidak adil terhadap dua tangan kita. Tapi, ya bagaimana lagi, wong sudah menjadi budaya.

Sebaliknya kalau di Jepang, karena kedua-duanya dianggap tidak kotor, maka memberi sesuatu kepada orang lain baik dengan tangan kanan maupun dengan tangan kiri ya sama saja. Tidak ada pembedaan peran antara tangan kiri dan kanan seperti halnya kita. Inipun juga budaya. Kita tidak boleh mengukur budaya Jepang dengan budaya kita, demikian juga sebaliknya.

Bagaimana hubungannya dengan kodrat, ada orang yang diciptakan dengan orang kidal? Artinya tangan kiri lebih kuat, dominan dari pada tangan kanan. Embuh, pikiren dewe……….

Salam,

Roni ‘90

4 Tanggapan

  1. Di Indonesia sudah ada juga toilet duduk dengan semprotan air dan pengering, terutama di Jakarta, walaupun masih terbatas untuk kalangan terntentu (misalnya toilet untuk Shocho, dsb).

  2. @Anisa: Terimakasih infonya. Seandainya toilet seperti itu bisa dibeli murah oleh masyarakat umum di Indonesia, betapa peran tangan kiri kita menjadi berkurang he he he……

  3. @mb anisa:hayooooo ketahuan yang sering pake toilet shocho…hehehehe.
    @Roni sensei:makasih infonya….alhamdulillah saya juga dah ikut merasakan tiletnya jepang meskipun belum berkesempatan pergi ke sana..:P

  4. Toilet dng penyemprot itu namanya bidet.

    BTW, anda tau tidak kalau tangan yg sudah dibasuh dengan air dan sabun sebenarnya masih tersisa kuman dari kotoran ? tidak percaya ?

    Kalau ada kucing (ini kucing lho bukan anjing. Penciuman kucing tdk setajam anjing), BAB di lantai trus lantai itu anda bersihkan dng banyak air dan cairan pembersih lantai sampe mulus,

    ketika kering, maka si kucing tetap tau lokasi lantai tempat dia BAB itu dengan penciumannya. Ada aroma berarti masih ada kotorannya. Dengan kata lain, bagi yg cebok pakai tangan kiri meskipun sudah dicuci berkali-kali pakai air dan sabun tetap tersisa kotorannya.

    Nah, apakah anda pernah perhatikan kalau menyentuh makanan dengan tangan kiri itu jorok mengapa mengadon makanan dengan kedua tangan ? Apakah benda yg tersentuh dengan tangan kiri tidak mungkin tersentuh tangan kanan secara sengaja – keyboard misalnya, trus HP, baju, celana, seterika, bahkan mencuci piring saja tangan kiri dipakai.

    Anda pernah merenungkan kenapa rata2 orang indo cebok dengan sabun batang bukannya sabun cair ?

    So, jadi ini tdk bisa dikatakan siapa yg paling jorok. Sebab kalau pakai tangan kiri berarti tangannya masih kotor sedangkan kalau pakai tisu berarti maaf anal areanya yg masih kotor.

    Bidet memang bisa menjadi solusi tapi sayang bidet ngak ada sabun cairnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: