QUALIFIER BAHASA JEPANG BERDASARKAN JENIS PREDIKAT: DALAM HUBUNGANNYA DENGAN JODOOSHI

Berikut ini abstrak tulisan Pak Lurah yang dimuat di Jurnal Online PPIJ “INOVASI ONLINE” Vol. 14/XXI/Juli 2009. Bagi yang mau membaca secara keseluruhan atau print silakan klik di: http://io.ppijepang.org/article.php?id=329 (agak sedikit mojibake)

Bagi yang mau donwload untuk referensi rombun silakan klik di: http://io.ppijepang.org/article.php?edition=14

.

QUALIFIER BAHASA JEPANG BERDASARKAN JENIS PREDIKAT : DALAM HUBUNGANNYA DENGAN JODOOSHI

Oleh: Roni

Abstrak

Bahasa-bahasa di dunia dibedakan menjadi bahasa VO dan bahasa OV. Bahasa Indonesia adalah jenis bahasa VO dan bahasa Jepang merupakan bahasa OV. Ada konstituen modifier yang mempunyai peran khusus hanya menerangkan arti konstituen inti yang mengisi V predikat. Modifier itu disebut qualifier (Q). Letak qualifier adalah sebelum V pada bahasa VO dan setelah V pada bahasa OV, jadi Q-V-O atau O-V-Q. Terdapat dua syarat untuk menjadi konstituen qualifier dalam bahasa Jepang yaitu pertama, konstituen yang bersangkutan harus menyatu dengan konstituen inti dalam predikat membentuk konstruksi frasa predikat. Kedua, karena berbentuk konstruksi frasa, di antara konstituen qualifier dan konstituen inti dalam predikat tersebut tidak diperkenankan penyisipan oleh konstituen lain yang besarnya sejajar dengan fungsi sintaksis. Berdasarkan jenis kata pengisi predikat dalam bahasa Jepang, qualifier dapat dibedakan menjadi qualifier predikat verba, qualifier predikat adjektiva, dan qualifier predikat nomina.

Kata-kata kunci: qualifier, kata bantu predikat, tipologi bahasa

1. Pengantar

Penelitian linguistik kontrastif yang membandingkan dua bahasa, yakni antara bahasa Indonesia dan bahasa Jepang sudah banyak dilakukan. Akan tetapi, penelitian yang mendetail tentang konstruksi urutan konstituen dalam frasa predikat yang terdapat dalam tata bahasa kedua bahasa tersebut, terutama masalah tipologinya kurang mendapat perhatian.

Pusat kalimat dalam teori tata bahasa kasus adalah predikat. Konstituen dalam predikat tersebut pada masing-masing bahasa berbeda. Namun, secara umum adalah verba. Konstituen yang bertugas menambah sifat secara tata bahasa terhadap arti verba disebut dengan verb qualifier atau di sini hanya disebut dengan qualifier saja1.

bahasa Indonesia bahasa Jepang
(1). ingin minum nomitai
Q V V Q
(2). harus minum noma nakerebanaranai
Q V V Q

Konstruksi predikat pada kedua bahasa tersebut, seperti terlihat pada contoh (1) dan (2) bahasa Indonesia, menempatkan qualifier (Q) sebelum verba (V), sedangkan bahasa Jepang menempatkan qualifier setelah verba. Qualifier adalah konstituen periferal yang menerangkan konstituen inti dalam konstruksi predikat. Dalam bahasa Indonesia verba minum yang menjadi konstituen inti diterangkan oleh ingin dan harus. Dalam bahasa Jepang yang menjadi konstituen inti adalah verba nom(i) dan nom(a) yang berarti minum. Verba ini dijelaskan oleh -tai ‘ingin’ (1) dan -nakerebanaranai ‘harus’ (2). Dalam konstruksi tersebut juga terlihat adanya gejala mirror image (bayangan cermin) dalam hal urutan qualifier dan verba di antara kedua bahasa.

Konstituen qualifier dalam bahasa Indonesia secara umum telah dibahas oleh Sudaryanto (1993) dalam bukunya Predikat-Objek dalam Bahasa Indonesia, Keselarasan Pola-Urutan. Sejauh pengetahuan penulis informasi tentang qualifier ini dalam bahasa Jepang belum ada. Tulisan ini akan mengulas jenis-jenis qualifier dilihat dari konstituen pembentuk konstruksi predikat dalam bahasa Jepang.

2. Urutan Kata

Dalam kajian sintaksis terdapat istilah fungsi sintaksis dan kategori sintaksis. Fungsi sintaksis berkaitan dengan slot-slot dalam kalimat, yang sering disebut dengan subjek (S), predikat (P), dan objek (O)2. Sedangkan kategori sintaksis berhubungan dengan jenis kata dalam bahasa, misalnya verba, adjektiva, nomina, dan sebagainya. Konstruksi sintaksis bahasa pada level terbesar kebanyakan didasarkan pada urutan fungsi sintaksisnya, terutama urutan objek dan predikatnya. Fungsi predikat secara kategori sintaksis diisi oleh jenis kata verba (V). Oleh karena itu, dalam penyebutan jenis bahasa selain ada istilah bahasa dengan urutan SPO ada juga istilah penyebutan bahasa SVO. V pada konstruksi yang disebutkan terakhir bisa berarti fungsi sintaksis predikat dan tentu saja bisa juga berarti kategori sintaksis verba dalam arti sesungguhnya. Dalam penelitian selanjutnya Lehmann menganggap fungsi sintaksis subjek merupakan konstituen yang tidak begitu penting secara antar-bahasa. Artinya, ada bahasa yang sering mengabaikan keberadaan subjek. Hal ini kebetulan terjadi dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa ini sering sekali subjek tidak disebut dalam percakapan. Misalnya dalam (anata wa) doko e ikimasuka ‘kamu akan pergi ke mana’?, subjek anata wa ‘kamu’ sering dihilangkan. Sebaliknya subjek dalam bahasa Indonesia sering dimunculkan. Dengan contoh bahasa Jepang ini tentu kita bisa mudah menerima bahwa subjek menjadi hal yang kurang begitu penting secara antar-bahasa. Rupanya dengan alasan ini, berdasarkan urutan fungsi sintaksisnya, bahasa-bahasa di dunia dibedakan menjadi bahasa tipe VO (atau PO) dan bahasa OV (atau OP). Bahasa Indonesia dan bahasa Jepang mewakili kedua tipe bahasa tersebut.

Dalam hubungannya dengan adposisi (Ad) terdapat preposisi (Pr) dan postposisi (Po). Bahasa yang menempatkan objeknya setelah verba atau predikat (bahasa VO) biasanya mempunyai preposisi (Pr). Sebaliknya bahasa yang menempatkan objeknya sebelum verba (bahasa OV) mempunyai postposisi (Po). Fungsi sintaksis objek (O) diisi oleh kategori sintaksis nomina (N). Di sini, adposisi dan verba mempunyai kesamaan dalam hubungannya dengan penguasaan terhadap nomina3. Bahasa Indonesia sebagai bahasa VO yang menempatkan objeknya setelah verba mempunyai adposisi berupa preposisi, dan bahasa Jepang sebagai bahasa OV menempatkan objeknya sebelum verba beradposisi berupa postposisi. Dalam konstruksi misalnya membeli buku (V-O) atau dalam bahasa Jepangnya hon o kau (O-V), maka verba membeli atau verba kau ‘membeli’ dalam bahasa Jepang mempunyai kekuasaan (menguasai) terhadap buku atau hon o ‘buku’. Sejajar dengan konstruksi ini misalnya konstruksi frasa adposisi di toko (Pr-N) atau dalam bahasa Jepangnya mise de (N-Po) ‘di toko’, maka preposisi di dan postposisi de ‘di’ mempunyai kekuasaan terhadap nomina toko atau mise ‘toko’. Dengan demikian, dalam bahasa Indonesia yang VO itu urutannya adalah verba-nomina (V-N), sejajar urutannya dengan preposisi-nomina (Pr-N); dan dalam bahasa Jepang yang OV itu urutannya adalah nomina-verba (N-V), sejajar urutannya dengan nomina-postposisi (N-Po). Jadi, penguasaan verba terhadap nomina sama urutannya dengan penguasaan adposisi (preposisi/postposisi) terhadap nomina4.

Sebuah konstituen akan menguasai konstituen yang lain, atau sebaliknya sebuah konstituen akan memodifikasi/menerangkan konstituen yang lainnya. Di sini terdapat konstituen inti yang menjadi pusat konstruksi dan konstituen periferal yang bertugas menjadi modifier (M). Prinsip dasar posisi modifier terhadap inti ini menjadi salah satu pusat keistimewaan pentipologian bahasa. Prinsip urutan antara keduanya juga berbeda dalam bahasa VO dan OV. Jika VO atau OV adalah sebuah rangkaian untaian, bentuk formal modifier V dan O yang diisi oleh nomina (N) itu berada di luarnya: M-V-O-M atau M-O-V-M.

(3) Posisi bentuk formal modifier (M) terhadap V dan O

(a) Bahasa Indonesia: ingin minum kopi hangat
M V O/N M
(b) Bahasa Jepang : atatakai kohi o nomi tai
‘hangat’ ‘kopi’ ‘minum’ ‘ingin’
M O/N V M

Dalam bahasa Indonesia (3a), pada konstruksi urutan minum kopi, verba minum dimodifikasi oleh ingin dan nomina kopi dimodifikasi oleh hangat. Demikian juga dalam bahasa Jepang (3b), pada konstruksi urutan kohi o nomi, verba nomi ‘minum’ dimodifikasi oleh -tai ‘ingin’ dan nomina kohi ‘kopi’ dimodifikasi oleh atatakai ‘hangat’. Bentuk formal modifier terhadap V inilah yang oleh Lehmann disebut dengan istilah qualifier.

Mengenai posisi bentuk formal atau konstituen qualifier (Q), Lehmann (1973) menggambarkan urutannya terhadap nomina atau objek sebagai berikut.

(4)# QV(Nobj) → { #QV(Nobj)#

#(Nobj)VQ#

Pada rumusan #QV(Nobj)# tersebut di atas, Nobj berada di dalam kurung. Artinya keberadaan nomina (objek) tersebut bersifat opsional, boleh ada boleh tidak. Pada verba transitif yang menuntut adanya objek maka Nobj diperlukan. Akan tetapi pada verba intransitif bagian Nobj tersebut tidak diperlukan karena verba intransitif tidak menuntut adanya objek. Selanjutnya, rumusan #QV(Nobj)# itu dibedakan menjadi dua yaitu pada bahasa VO berlaku rumusan urutan #QV(Nobj)’ dan pada bahasa OV berlaku rumusan urutan ‘(Nobj)VQ’.

Konstituen qualifier memberikan ‘kualitas’ terhadap arti kalimat. Jadi, keberadaan qualifier mempengaruhi arti keseluruhan kalimat. Sudaryanto (1983) menggunakan istilah pendesak untuk menerjemahkan qualifier5. Sesuai dengan namanya, konstituen pendesak tersebut mendesak salah satu bagian atau keseluruhan kalimat dengan cara menambahkan, mengurangi, membatasi, atau mempengaruhi artinya. Dengan demikian, qualifier adalah konstituen kategori tata bahasa (gramatikal) yang memberi kualitas secara tata bahasa pula terhadap arti konstituen inti yang terdapat dalam slot predikat.

Sementara itu, seperti sudah disinggung di atas bahwa V pada konstruksi VO/OV dalam tipologi bahasa Greenberg-Lehmann bisa berarti verba, bisa juga berarti predikat. Jika V tersebut adalah verba maka penjelasan lainnya tidak diperlukan. Artinya memang V yang dimaksud adalah fungsi sintaksis yang diisi oleh kategori verba. Namun, jika V tersebut adalah predikat, dalam hubungannya dengan keistimewaan masing-masing bahasa, V predikat tersebut perlu dijelaskan lebih lanjut. Karena kategori sintaksis yang dapat mengisi slot predikat dalam bahasa Jepang tidak hanya verba saja. Adjektiva dan nomina juga bisa menduduki slot predikat. Untuk itulah V dalam tipologi bahasa tersebut bagaimana menerapkannya dalam bahasa Jepang. Dan setelah V predikat tersebut jelas, bagaimana dengan halnya konstituen modifier yang disebut dengan qualifier itu.

3. Verba Bantu (Jodooshi)

Sekilas dengan rumusan Lehmann pada poin (4) dapat disimpulkan secara cepat bahwa qualifier dalam bahasa Jepang sejajar dengan jodooshi atau sering diterjemahkan kata bantu verba atau ada juga yang menyebut verba bantu6. Jo berarti bantu dan dooshi berarti verba. Akan tetapi penerjemahan ini menurut penulis kurang tepat. Yang pas, sekali lagi menurut penulis adalah kata bantu predikat. Di akhir tulisan ini penulis akan mengemukakan alasannya.

Istilah jodooshi (selanjutnya digunakan istilah verba bantu) dalam bahasa Jepang ditentukan berdasarkan penggolongan arti jenis katanya. Oleh karena itu, pada kenyataannya masing-masing peneliti mempunyai standar yang berbeda. Kalau demikian, sebenarnya apa yang dimaksud dengan verba bantu itu tidak jelas. Dalam tata bahasa secara umum, yang disebut dengan verba bantu adalah kausatif -seru/-saseru, pasif/kemungkinan/hormat -reru/ -rareru, kesopanan -masu, negatif -nai/-nu/-mai, kehendak/dugaan -u/-yo, dugaan/kemiripan -rashii/-yooda, keinginan -tai, selesai/lampau -ta, katanya -sooda, dan keputusan -da/-desu. Terhadap beberapa jenis verba bantu ini Shinkichi Hashimoto menggunakan istilah ji (imbuhan), sedangkan Yoshio Yamada menggunakan istilah fukugobi (ekor majemuk)7. Isago Mio (2003) menata ulang verba bantu tersebut sebagai berikut.

(5) A. Yang dimasukkan pengecualian

1. Yang sebaiknya dianggap sebagai akhiran

(a) -reru, -rareru, -seru, -saseru, -tai

(b) -nai, -nu, -masu

2. Yang sebaiknya dianggap sebagai ekor kata

-u, -yoo, -ta

B. Yang tetap sebagai verba bantu

-da, -desu, -gozaimasu, -rashii, -yooda, -soda, -mai

C. Yang dimasukkan sebagai verba bantu baru

-(wa)suru, -(kuwa)aru, -(ku)nai, -dearu, -denai, -degozaimasu

Dengan melihat klasifikasi verba bantu tersebut di atas istilah verba bantu menjadi kabur. Tidak jelas pula bagaimana hubungan antara kala, aspek, dan modal. Oleh karena itu tidak berlebihan jika Mio (2003) menambahkan penjelasannya bahwa ‘Tidak ada persoalan jenis kata yang serumit verba bantu.’ Berdasarkan pernyataan ini, klasifikasi verba bantu dalam bahas Jepang masih memerlukan penataan ulang. Tulisan ini akan mencoba melihat secara garis besar dari sudut pandang qualifier menurut tipologi bahasa gaya Lehmann.

4. Syarat Qualifier dalam Bahasa Jepang

Sudah dikemukakan di subbab 2 di depan bahwa bentuk formal yang memodifikasi verba itulah yang disebut dengan qualifier. Qualifier merupakan istilah yang muncul pada tipologi bahasa gaya Lehmann. Bersama dengan tipologi bahasa gaya Greenberg, tipologi bahasa Lehmann ini saling melengkapi. Jadi, istilah qualifier lahir dari kajian tipologi bahasa yang mendasarkan pentipologiannya pada urutan morfem dan kata dalam kalimat. Dalam bahasa Indonesia teori qualifier ini diterapkan oleh Sudaryanto (1993) dalam salah satu bab di bukunya. Selanjutnya, dalam bahasa Jawa diterapkan oleh Roni (2001). Dengan memperhatikan penerapan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa tersebut Roni (2008) berusaha menerapkannya dalam bahasa Jepang. Ringkasan makalah Nihongo no Dooshi Qualifier yang dimuat dalam jurnal ilmiah Nagoya Daigaku Kokugo Kukubungaku Edisi 101, November 2008 halaman 89 adalah sebagai berikut.

Posisi modifier verba yang disebut dengan qualifier dalam bahasa Jepang berada setelah verba: (O)VQ. Jadi, konstituen setelah verba besar kemungkinannya untuk menjadi qualifier. Selanjutnya, karena perannya dalam kalimat tidak jelas, konstituen qualifier tidak dibahas dalam hubungannya dengan konstruksi klausa, melainkan dimasukkan pada konstruksi yang lebih kecil yaitu frasa, jelasnya frasa predikat. Dengan demikian, konstituen qualifier tersebut bersama dengan konstituen inti pengisi predikat membentuk konstruksi bahasa paling besar berupa konstruksi frasa predikat. Artinya bisa konstruksi frasa jika qualifier berupa kata (morfem bebas), atau konstruksi kata jika qualifier berupa morfem (morfem terikat).

Karena konstituen qualifier dan konstituen inti pengisi predikat membentuk konstruksi frasa maka hubungan keduanya sangat erat. Di antara keduanya tidak boleh ada konstituen lain yang sejajar dengan fungsi sintaksis mengisi, menyela, atau membatasi. Pada contoh (6) sementara dianggap bahwa morfem ta ‘sudah’ yang menyatakan kala lampau dan kata to omou ‘pikir’ karena berada setelah verba tabe ‘makan’, diandaikan dapat berstatus sebagai bentuk formal qualifier. Kata tabeta ‘sudah makan’ dapat dibagi menjadi dua yaitu tabe yang merupakan akar verba dan ta. Di antara keduanya jika disisipi konstituen yang sejajar dengan fungsi sintaksis watashi ga ‘saya’ seperti contoh (7), keseluruhan konstruksi tersebut tidak berterima. Artinya, hubungan antara tabe dan ta sangat erat sehingga tidak dapat dipisahkan oleh watashi ga. Jadi, ta bisa berstatus qualifier. Pada contoh (6), to omou kelihatan seperti bentuk formal qualifier. Dengan penyisipan watashi ga sebelum omou, konstruksi (8) tetap berterima. Jadi, to omou tidak bisa berstatus sebagai qualifier.

(6) tabe ta to omou.

‘makan’ kala: lampau ‘pikir’

V Q Q

(7) * tabe watashi ga ta

‘makan’ ‘saya’ kala: lampau

V S/pelaku Q

(8) tabe ta to watashi ga omou.

‘makan’ kala: lampau ‘saya’ ‘pikir’

V Q S/pelaku Q

Dengan cara tersebut, konstruksi lingual pada frasa predikat dapat dites. Misalnya, konstruksi yukkuri aruku ‘berjalan pelan’ dan hayaku kaeru ‘pulang cepat’. Walaupun kata keterangan yukkuri ‘pelan’ dan hayaku cepat’ berada sebelum verba aruku ‘berjalan’ dan kaeru ‘pulang’ terlihat hubungan di antaranya terasa erat seperti membentuk frasa predikat. Dan kata keterangannya dapat dianggap berstatus qualifier. Tetapi setelah disisipi watashi ga ‘saya’ seperti contoh (10) maka konstruksi tersebut tetap berterima. Jadi, status qualifier pada yukkuri dan hayaku tidak terbukti.

(10) Yukkuri aruku

Yukkuri watashi ga aruku

S/pelaku

Hayaku kaeru

Hayaku watashi ga kaeru

S/pelaku

Dengan penjelasan di atas, Roni (2008) mengemukakan dua syarat suatu konstituen dalam bahasa Jepang dapat menyandang status sebagai qualifier. Pertama, konstituen tersebut menyatu dengan konstituen inti dalam slot predikat membentuk frasa predikat. Pengertian menyatu di sini boleh di depan atau di belakang konstituen inti. Dan kedua, karena berbentuk konstruksi frasa, di antara konstituen qualifier dan konstituen inti dalam slot predikat tersebut tidak boleh disisipi konstituen lain yang sejajar dengan fungsi sintaksis.

5. Konstituen Pengisi Predikat dalam Bahasa Jepang

Seperti sudah disinggung sebelumnya pada subbab 2 bahwa pada pola SVO dan SOV, V yang dimaksud bisa berarti fungsi sintaksis yang disebut dengan predikat, karena sebagai imbangan S subjek dan O objek seharusnya adalah P predikat. Akan tetapi, P predikat tidak dipergunakan dalam pola tersebut. Alasannya semata-mata bahwa jenis kata pengisi predikat secara antar-bahasa adalah verba (V). V verba inilah yang digunakan sebagai pengganti lambang P predikat pada pola SVO dan SOV tersebut. Jadi, V pada pola itu bisa berarti kategori sintaksis verba atau fungsi sintaksis predikat. Untuk poin yang pertama tidak akan dibahas pada tulisan ini. Karena predikatnya sudah jelas yaitu diisi oleh verba: V sama dengan verba. Pada subbab ini akan dibahas mengenai poin yang kedua, V sama dengan predikat.

Kalimat yang predikatif8 sebagai pusatnya adalah predikat itu sendiri. Jadi, predikat adalah konstituen penguasa primer dan menjadi konstituen pusat dalam sebuah kalimat (Nida, 2004: 152). Kategori sintaksis atau jenis kata yang dapat mengisi slot predikat dalam bahasa Jepang bermacam-macam, yang utama adalah verba, adjektiva (baik adjektiva i maupun adjektiva na), dan nomina. Nida (2005) menjelaskan bahwa klasifikasi konstruksi kalimat yang predikatif dipandang dari jenis kata pengisi predikat dapat dibedakan menjadi kalimat dengan predikat verba, kalimat dengan predikat adjektiva, dan kalimat dengan predikat nomina. Dalam hal ini adjektiva bahasa Jepang dibedakan menjadi dua, yaitu adjektiva i dan adjektiva na.

Jika konstituen pengisi slot predikat ini diamati lebih jauh akan terdapat dua kelompok konstruksi kalimat. Pertama, kelompok kalimat predikatif yang predikatnya diisi oleh leksikal apa adanya tanpa bantuan konstituen lain; dan kedua, kelompok kalimat predikatif yang predikatnya diisi oleh leksikal dengan bantuan konstituen lain. Kelompok yang pertama adalah kalimat dengan predikat verba dan predikat adjektiva i; dan kelompok yang kedua adalah kalimat dengan predikat adjektiva na dan predikat nomina. Kelompok yang terakhir dalam pengisian predikat memerlukan bantuan konstituen da dan sejenisnya9. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kalimat dengan predikat verba dan adjektiva i merupakan kalimat dengan sifat pengisian predikat sempurna. Sebaliknya dalam kalimat dengan predikat adjektiva na dan nomina, karena memerlukan bantuan konstituen da, sifat pengisian predikatnya tidak sempurna. Yang disebut sifat pengisian predikat di sini adalah dapat atau tidaknya suatu konstituen mengisi slot predikat. Kalau bisa mengisinya secara mandiri, konstituen tersebut mempunyai sifat pengisian sempurna, dan sebaliknya jika tidak dapat melakukan pengisian secara mandiri, konstituen tersebut mempunyai sifat pengisian tidak sempurna (Isao Iori, 2001). Hanya saja, seperti halnya dengan ekor kata -u/-ru pada verba dan -i pada adjektiva i yang dapat bertugas sebagai katsuyoogobi (ekor kata konjugasi), jika da pada predikat adjektiva na dan nomina tersebut dianggap sebagai ekor kata konjugasi juga, adjektiva na dan nomina juga mempunyai sifat predikat sempurna. Akan tetapi, cara berpikir yang disebutkan belakangan tidak dijadikan acuan dalam tulisan ini.

Pendapat yang lain mengatakan bahwa tanpa da dan sejenisnya adjektiva na dan nomina dapat mengisi slot predikat (Maya Kobayashi, 2005). Misalnya dalam kalimat kumo no ue wa tengoku (da) ‘di atas awan ada surga’ dan yoru wa shizuka (da) ‘malam itu tenang’, keberadaan da boleh ada boleh tidak, bersifat opsional. Menurut penulis setidaknya ada dua alasan tentang keopsionalan da ini. Pertama, konstituen da yang menyatakan bentuk biasa ini akan dihadirkan jika akan dikontraskan dengan desu yang menyatakan bentuk sopan. Kedua, untuk membedakan bahasa tulis dan bahasa lisan. Dalam bahasa tulis keberadaan da dan sejenisnya diperlukan untuk menutup kalimat dengan predikat adjektiva na dan nomina. Sebaliknya dalam bahasa lisan da sering dihilangkan. Tulisan ini akan memperlakukan da sebagai konstituen yang diperlukan dalam jenis kalimat tersebut.

Selain verba, adjektiva, dan nomina seperti yang sudah dijelaskan di atas terdapat juga kategori sintaksis yang dapat mengisi predikat, yaitu adverbia. Misalnya kata keterangan mada ‘belum’ dalam kalimat berikut berterima: chooshoku wa mada desu ‘makan paginya belum’. Tetapi sebaliknya kata keterangan moo ‘sudah’ dalam kalimat berikut tidak berterima: *chooshoku wa moo desu ‘makan paginya sudah’. Dengan demikian, sifat adverbia bermacam-macam. Tidak semua adverbia dapat mengisi slot predikat. Mungkin karena alasan inilah kalimat dengan predikat adverbia seringkali tidak dipermasalahkan (Yoshifumi Tobita dan Takeyoshi Sato, 1941)

Dari uraian subbab 3 dan subbab 5 ini, kategori sintaksis dalam bahasa Jepang dilihat dari sudut pandang kemampuannya mengisi predikat dan kesempurnaan sifat predikatnya dapat diringkas seperti tabel (11) berikut.

(11) Kategori Sintaksis dan Fungsi Sintaksis Predikat

Kategori Sintaksis Subkategori Sintaksis Kemampuan Mengisi

Predikat

Kesempurnaan Pengisian

Predikat

Verba Transitif O O
Intransitif O O
Adjektiva Tipe i O O
Tipe na O X
Nomina O X
Adverbia Δ
Kategori lain

Keterangan, O: memenuhi syarat; X: tidak memenuhi syarat; Δ: memenuhi sebagian; ⊕: tidak dipermasalahkan

6. Jenis Qualifier Berdasarkan Kategori Sintaksis Pengisi Predikat

Seperti terlihat pada tabel (11), fungsi sintaksis pada kalimat bahasa Jepang dapat diisi oleh verba, adjektiva, nomina, dan sebagian adverbia. Perlu pengkajian lebih lanjut tentang adverbia, mana adverbia yang bisa mengisi predikat dan mana yang tidak bisa menduduki predikat.

Verba dilihat dari keperluan munculnya objek dibedakan menjadi dua, verba transitif dan instransitif. Sedangkan, adjektiva dalam dunia pendidikan bahasa Jepang di luar Jepang, dilihat dari hubungannya dengan nomina dalam membentuk konstruksi frasa nomina dibedakan menjadi dua, yaitu adjektiva tipe i dan adjektiva tipe na. Pada adjektiva i atsui ‘panas’ dalam frasa nomina atsui kohi ‘kopi panas'(13) mempunyai model penyambungan seperti verba tatsu ‘berdiri’ dalam frasa nomina tatsu hito ‘orang yang berdiri’ (12), yaitu tanpa partikel penyambung. Sedangkan, adjektiva na kirei cantik’ dalam frasa nomina kirei na hito ‘orang yang cantik’ (14) dalam penyambungannya dengan nomina hito ‘orang’ memerlukan partikel penyambung na. Perbedaan dalam model penyambungan inilah yang menjadi salah satu pembedaan antara adjektiva dalam bahasa Jepang. Adjektiva yang tanpa penyambungan dalam memodifikasi nomina dan ditambah karena memang berakhir dengan fonem i maka disebut adjektiva tipe i (atau disebut adjektiva i saja). Sedangkan, adjektiva yang membutuhkan penyambungan partikel na dalam memodifikasi nomina disebut dengan adjektiva tipe na (atau adjektiva na saja).

(12) Tatsu hito wa chichi desu.

‘berdiri’ ‘orang’ penanda: topik ‘ayah saya’ bantu predikat: sopan

Orang yang berdiri itu ayah saya.’

(13) Atsui kohi o onegai shimasu.

‘panas’ ‘kopi’ penanda: pasien ‘minta’

‘Minta kopi panas!’

(14) Megumi wa kirei na hito da.

nama orang penanda: topic cantik’ penyambung ‘orang’ bantu predikat: biasa

‘Megumi itu orang yang cantik.’

Untuk kategori sintaksis verba, adjektiva dan nomina, meskipun sedikit berbeda dalam kesempunaannya mengisi predikat, tapi ketiganya mempunyai kemampuan penuh dalam mengisi predikat. Dilihat dari faktor ini, predikat dalam bahasa Jepang dibedakan menjadi tiga, yaitu predikat verba, predikat adjektiva, dan predikat nomina. Sudah dijelaskan pula di depan bahwa dalam tipologi bahasa yang didasarkan pada urutan kata dan morfem, konstituen periferal yang memodifikasi (M) konstituen inti dalam frasa predikat disebut dengan qualifier. Dengan demikian, jenis qualifier dipandang dari konstituen inti pengisi predikat sebaiknya juga dibedakan menjadi tiga, yaitu qualifier predikat verba, qualifier predikat adjektiva, dan qualifier predikat nomina. Lebih jauh dalam sub-subnya secara relatif dapat pula dibedakan menjadi qualifier predikat verba transitif, qualifier predikat verba intransitif, qualifier predikat adjektiva i, dan qualifier predikat adjektiva na.

Dengan urutan pemikiran seperti ini, seandainya konstituen qualifier itu sejajar dengan jodooshi, penerjemahannya bukan kata bantu verba melainkan kata bantu predikat. Sedangkan istilah verba bantu lebih cenderung untuk jenis qualifier yang berasal dari leksikal berupa verba dan setelah melalui proses gramatikalisasi atau bunpooka (”’) menjadi kategori gramatikal/tata bahasa. Misalnya verba iku ‘pergi’ yang termasuk kategori leksikal, ketika bergabung dengan bentuk te menjadi te iku (arti: bernuansa menjauh) dimasukkan dalam kategori gramatikal. Contoh lain miru ‘melihat’ menjadi te miru ‘mencoba’, oku ‘meletakkan’ menjadi te oku (arti: bernuansa persiapan), dan lain-lain. Dengan analogi ini akan timbul pula adjektiva bantu. Misalnya kategori leksikal yasui ‘murah’ dan hoshii ‘butuh’ menjadi kategori tata bahasa dalam konstruksi tabeyasui ‘mudah dimakan’ dan tabete hoshii ‘berharap dimakan’. Beberapa persoalan yang disebutkan belakangan masih memerlukan kajian lebih lanjut.

7. Kesimpulan

Dari uraian tersebut dapat ditegaskan beberapa hal sebagai berikut. Tipologi bahasa yang mendasarkan analisisnya pada urutan kata dan morfem membedakan bahasa-bahasa di dunia menjadi bahasa VO dan bahasa OV. Bahasa Indonesia dan bahasa Jepang mewakili kedua tipe bahasa ini. Terdapat konstituen modifier yang mempunyai tugas memberi keterangan terhadap konstituen inti pengisi V predikat, yang disebut dengan qualifier (Q). Letak qualifier adalah sebelum V pada bahasa VO dan setelah V pada bahasa OV: QVO atau OVQ. Syarat sebagai konstituen qualifier dalam bahasa Jepang adalah konstituen tersebut menyatu dengan konstituen inti dalam slot predikat membentuk frasa predikat, dan karena berbentuk konstruksi frasa, di antara konstituen qualifier dan konstituen inti dalam slot predikat tersebut tidak boleh disisipi oleh konstituen lain yang sejajar dengan fungsi sintaksis. Berdasarkan jenis kata pengisi predikat secara garis besar terdapat qualifier pada predikat verba, qualifier pada predikat adjektiva, dan qualifier pada predikat nomina. Berdasarkan jenis-jenis qualifier ini pula, jika jodooshi dianggap sejajar dengan qualifier, istilah yang tepat untuk memaknai jodooshi dalam bahasa Indonesia bukan kata bantu verba ataupun verba bantu melainkan kata bantu predikat.

8. Daftar Pustaka

  1. Hideo, Teramura. 1999. Teramura Hideo Rombunshuu I, Nihongo Bunpoohen. Kuroshio Shuppan
  2. Isago, Mio. 2003a. Mio Isago Chosakushuu I. Hitsuji Shoboo
  3. Isago, Mio. 2003b. Mio Isago Chosakushuu II. Hitsuji Shoboo
  4. Isao, Iori. 2001. Atarashii Nihongogaku Nyuumon, Kotoba no Shikumi o Kangaeru. 3A Net work
  5. Lehmann, WP. Language: An Introduction. terjemahan oleh Yamasaki Toshi. 1992. Gengogaku Nyuumon. Gakushoboo Shuppan Kabushikigaisha
  6. Lehmann, WP. 1973. ‘A Structural Principle Of Language And Its Implications’ dalam jurnal ilmiah Language Vol. 49 No. 1
  7. Maya, Kobayashi. 2005. ‘Keiyoodooshi to Keiyooshi no Toogoteki Sooi’ dalam jurnal ilmiah Nihongo Bunpo Vol 5 No 2 September 2005
  8. Roni. 2008. ‘Nihongo no Dooshi Qualifier’ dalam jurnal ilmiah Nagoya University Japanese Linguistics and Japanese Literature Edisi 101 Nopember 2008
  9. Roni. 2001. Pendesak dalam Bahasa Jawa, Kajian Tipologis. Tesis Master tidak dipublikasikan Sebelas Maret University
  10. Sudaryanto. 1983 Predikat-objek dalam Bahasa Indonesia, Keselarasan Pola-urutan. Penerbit Djambatan
  11. Tasaku, Tsunoda. 1991. Sekai no Gengo to Nihongo. Kuroshio Shuppan
  12. Verhaar, JWM. 1996. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Catatan Kaki

1 Qualifier sebenarnya sejajar dengan yang menerangkan dalam tata bahasa Sutan Takdir Alisjahbana, pembatas dalam bukunya Sudaryanto, atau modifier dalam tata bahasa Inggris. Sudaryanto menerjemahkan kata qualifier ini menjadi pendesak dalam bahasa Indonesia. Dalam tulisan ini digunakan istilah aslinya saja yaitu qualifier, dan selanjutnya ditulis dengan huruf tegak (tidak ditulis miring) untuk menaturalisasikannya.

2 Dalam tata bahasa tradisional bahasa Indonesia terdapat satu slot lagi yaitu keterangan (K). Terhadap keterangan ini masih terjadi silang pendapat di antara para ahli bahasa. Pada tulisan ini sementara konstituen keterangan diabaikan.

3 Lehmann WP (1992: 208)

4 Secara historis, adposisi diperkirakan secara hipotesis berasal dari verba. Perhatikan adposisi mengenai dalam bahasa Indonesia atau nitsuite (tentang) dan nikansuru (berhubungan dengan) dalam bahasa Jepang. Ketiga adposisi tersebut menunjukkan tanda-tanda verba. Awalan me- dalam bahasa Indonesia sering berfungsi sebagai tanda verba. Kata tsuku dan kansuru dalam bahasa Jepang juga mengindikasikan verba. Beberapa kasus ini menjadi peluang untuk penelitian secara historis: butuh pembuktian.

5 Verhaar menggunakan istilah penegas (1996:266)

6 Misalnya Tsunoda Tasaku (1991) dalam bukunya ‘Sekai no Gengo to Nihongo’ menggunakan tipologi bahasa gaya Greenberg-Lehmann, tetapi pada konstruksi frasa verba (frasa predikat) tidak menggunakan istilah qualifier, melainkan jodooshi atau verba bantu.

7 Kata imbuhan dan ekor majemuk merupakan terjemahan bebas penulis.

8 Kalimat predikatif merupakan kalimat yang mempunyai predikat atau kalimat yang mempunyai konstituen yang dapat dianalisis sebagai bagian dari predikat. Kebalikan dari kalimat jenis ini adalah kalimat dengan kata mandiri yang tidak mempunyai predikat atau konstituen yang dapat dianggap sebagai predikat (Nida, 2005: 20)

9 Hideo Teramura (1999: 3).

Penelitian tentang bahasa Jepang yang lain klik di S   I   N   I

4 Tanggapan

  1. anak buah Mr. Daryanto…. Selamat Pak! LAnjutkan!!! salam kangen….

  2. Terimakasih, Pak Sahid. Bagaimana studi doktornya di Malaysia, sudah selesai? Iya nih, sebagai anak buah yang baik dan benar berkewajiban melanjutkan studi yang telah dikerjakan sebelumnya ha ha ha……

  3. Saya sedang bingung dengan data tentang rombun saya yang berjudul analisis semantik yousuruni,kekkyoku dan tonikaku…niatnya pengen ganti judul karena kekurangan data,,mau minta referensi buku sensei?Saya sangat tertarik dengan bahasan qualifier ini,,bisakah jadi referensi buat judul rombun saya???

  4. Gitasan, anda sedang bingung tentang data penelitian atau teori yang akan anda gunakan dalam penelitian. Coba dibedakan ya. Referensi itu dalam hubungannya dengan teori, kalau itu yang anda maksudkan, silakan digunakan teori yang dipaparkan dimakalah ini. Silakan download di link yang ditunjukkan di awal tulisan ini.

    Roni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: