Hi Matsuri (2/2)

Hi Matsuri berhubungan dengan OBON. Tentang tujuan obon seperti sudah saya bicarakan di Hi Matsuri (1/2). Pada tulisan ini saya mau bercerita tentang hi matsuri 火祭り yang kedua yang saya kunjungi malam itu.

Setelah sorenya sekitar waktu magrib, kita melihat tradisi penjor dan bakar “kemenyan” di atas genting, saya dan keluarga diajak masuk sedikit ke pelosok gunung. Waktu sudah gelap gulita. Penerangan tidak begitu ada, saya ndak tahu apakah karena akan ada hi matsuri yang akan saya lihat ini, kok terasa lampu listrik tidak kelihatan. Hanya di beberapa tempat ada penerangan dan dari jauh kelap-kelip. Sebentar terang karena berpapasan dengan lampu mobil lain. Akhirnya kita masuk di area parkir pegunungan. Sekali lagi gelap. Tapi dari lampu mobil kelihatan sekali kalau mobi yang diparkir di parkiran ini sangat banyak. Mobil sekian banyaknya, tapi tidak ada orang, hanya ada dua orang mengatur mobil untuk parkir, orang-orang itu pada ke mana? Untung teman Jepang, Pak Kamiya membawa lampu senter.

Kita diajaknya menelusuri jalanan gelap menuju lokasi. Begitu masuk area tempat akan berlangsungnya acara hi matsuri, kita dibuatnya terkejut. Di depan mata saya terpampang lapangan yang cukup luas, tapi di samping kanan saya adalah area makam, ……. ya kuburan. Kembali lagi ingatan ini ke masalah obon. Obon berhubungan dengan arwah………, arwah orang meninggal…….. ya kuburan he he he.

Walaupun di area kuburan tapi tidak mengurangi minat para kameraman untuk mendirikan tripotnya yang besar-besar itu mengelilingi lapangan tempat akan berlangsungnya hi matsuri. Ya……… lapangan ini diberi pembatas tali mengelilingi lapangan. Dan di luar tali itulah sudah berderet penuh tripot-tripot para fotografer dan kameraman. Di dalam area yang dikelilingi tali itu dinyalakan penerangan yang berasal dari kayu bakar, seperti foto berikut.

DSC_0083blog

Pikirku, kita ini mau melihat hi matsuri dari mana, la wong semuanya sudah penuh dengan tripot. Ternyata, walaupun hi matsuri ini berada di tengah-tengah gunung tapi dikejar para fotografer dan kameraman. Hi matsuri ini salah satu matsuri yang cukup langka dan karena berhubungan dengan api, diadakan malam hari. Ini malam, kalau ngambil fotonya hanya dengan tangan, hasilnya kebanyakan akan bergetar, kabur. Bener juga, dari sekian ratus foto yang saya ambil, tidak lebih dari sepersepuluhnya yang saya anggap bagus. “Untuk itu diperlukan tripot, Kang”, nyesel banget.

Acara hi matsuri dimulai pukul sembilan tepat. Sebelum itu di pojok lapangan diadakan bon odori 盆踊り. Kesan saya sederhana sekali tapi alami. Mungkin bon odori yang sebenarnya seperti ini kali ya.

DSC_0088blokDi tengah-tengah barisan orang yang menari banyak didirikan ikatan jerami. Jerami yang panjangnya mencapai 3 meter ini dianyam, dan di dalamnya dimasukkan rumput kering. Ikatan jerami itu yang akan digunakan dalam hi ondori火踊り dan hi matsuri nanti. Tidak lupa, anakku yang besar Fira, Pak Kamiya, dan Fathiyahsan (alumni Unitomo Surabaya) ikut dalam tarian bon odori.

DSC_0099blogJam sembilan kurang dua puluh menit, bon odori selesai. Jerami-jerami diangkat dan diletakkan di lapangan yang sudah dibatasi dengan tali tadi. Lihat foto berikut.

DSC_0112blogNamanya hi matsuri, jadi selalu ada unsur apinya. Ikatan-ikatan jerami itu tentu dibakar. Setelah lama menunggu, kok ndak dibakar-bakar, kapan membakarnya. Kita semuanya menunggu. Tiba-tiba dari kejauhan terdapat nyala api besar yang menuju ke area ini. Lihat foto berikut.

DSC_0114blogSelain ikatan jerami yang diberdirikan di lapangan, ada lagi ikatan jerami yang dibakar dan dibawa masuk ke lapangan, sambil diiringi musik: “dug, dug, jleng…. dug, dug, jleng…..” Ingatan ini kembali pada suasana seperti dalam dongeng nenek tentang orang-orang mencari anak yang digondol gondoruwo atau gendruwo. Katanya kalau mendengar musik seperti itu, gendruwo yang menculik anak kecil itu akan melepaskannya dan menari-nari gembira. Ketika anak masih dalam genggaman tangan gendruwo, anak itu tidak kelihatan. Begitu dilepaskan konon anak itu kelihatan secara kasat mata. Ah…… ada-ada saja dongeng simbah ini……..

DSC_0120blogSeperti terlihat di foto atas. Paling belakang adalah barisan orang-orang yang memikul ikatan jerami yang sudah dibakar, di barisan paling depan adalah tetua yang membawa api utama. Api utama itu tidak berasal dari korek api modern. Melainkan berasal dari penggesekan dua batu api oleh tetua dalam hi matsuri itu. Di belakang rombongan tetua, dibunyikan musik tradisional di antaranya taiko (bedug), seruling, dan ndak tahu apa namanya seperti yang digunakan oleh penari dalam hi matsuri (1/2). Alunan musiknyapun mirip, “dug, dug, jleng…… dug, dug, jleng……”, hanya saja ditambahkan seruling.

DSC_0121blogSetelah semua orang-orang yang memikul jerami yang sudah dibakar itu masuk, maka dimulailah tarian api 火踊り. Pikulan api itu mulai diputar-putar oleh si pemikul.

DSC_0127blogTidak lupa, musik berjalan terus. Kalau tidak ada musik tidak ada tari, begitulah kira-kira. Dan tentu saja, teriakan-teriakan si pemikul mewarnai meriahnya, hingar bingarnya tari, juga terbersit di sana sebuah suasana mencekam.

DSC_0130blog“Dug, dug, jleng….. dug, dug, jleng…..”. Bukan hanya yang dewasa, yang anak-anak selalu diikutkan dalam matsuri. Beginilah salah satu cara melestarikan budaya leluhur: ikutkan anak-anakmu untuk menjadi penerusmu. Beda dengan ludruk dan ketoprak yang kurang begitu melibatkan anak-anak, katanya “yang menjual anaklah”, “belum waktunyalah”, dsb. Malahan ada kesan, “anak-anak kok melihat ludruk, ketoprak”. Justru untuk melestarikan budaya leluhur harus melibatkan anak-anak, entah sekedar untuk melihat atau bahkan menjadi salah satu pelaku di dalamnya. Bukannya begitu, saudara?

DSC_0135blogDemi keselamatan bersama, namanya juga api, kalau sudah menjadi kan sulit dipadamkan, makanya sebelum sulit dipadamkan……. ya bawalah semprotan yang diisi air. Di punggung orang ini adalah kantong besar yang berisi air, sewaktu-waktu diperlukan dipompa untuk disemprotkan. Tapi di luar lapangan ini, agak sedikit jauh juga sih, sudah siap sedia mobil pemadam kebakaran.

DSC_0142blogSemakin lama, para penari api semakin menjadi. Pikulan api diputar-putar terus……..

DSC_0151blogDiputar……

DSC_0164blogDiputar terus…. mungkin dia mengalami suasana yang disebut trandensental dalam menari?

DSC_0172blogYa…. mungkin…… Apinya menjilat-jilat bagaikan ular mengamuk, eh bukan, bagaikan buto ijo mengamuk……

DSC_0227blogHalah, capek. Duduk dulu. Sempat memotret keluarga dari belakang. Capek juga ternyata……

DSC_0244blogSetelah sekian lama kita memutuskan untuk pulang, bisa kemalaman di jalan. Sebelum pulang takpotrete dari celah-celah orang yang berdesakan ya….

DSC_0310blogAkhirnya kita pulang bersama……. Sampai rumah jam satu malam.

Salam,

Roni (90)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: