Hi Matsuri (1/2)

Beberapa waktu yang lalu keluarga kami diantarkan oleh seorang teman Jepang, Pak Kamiya ke HI MATSURI 火祭り di sebuah desa terpencil yang berada di kota kecil Shinshiro-shi wilayah Aichi-ken. Ada dua hi matsuri yang kita kunjungi. Dan keduanya berhubungan dengan OBON. Obon biasanya berhubungan dengan OHAKA MAIRI, atau istilah kita nyekar ke makam leluhur atau bahasa Tulungagungnya “geren”.

Obon jatuh pada tanggal 14, 15 Agustus tiap tahunnya, dan ditetapkan sebagai hari libur nasional. Dipercaya oleh seluruh masyarakat Jepang bahwa ketika obon, arwah leluhur pulang ke rumah. Dan pada waktu itulah dilakukan nyekar. Untuk mengantarkan arwah kembali ke asalnya, di beberapa tempat masih terjaga dengan rapi ritual pengantar arwah ini. Dua di antaranya seperti yang akan saya ceritakan dalam foto secara terpisah.

Upacara atau ritual obon pertama saya lihat di sebuah kampung yang besarnya kira-kira sepedukuhan. Dan sepanjang perjalanan, sepertinya hanya kampung situ saja yang masih melakukan ritual itu. Di depan rumah dinyalakan api penjor atau blencong, seperti foto di bawah ini.

DSC_0017blogSedikit ironis. Di tengah-tengah masyarakat Jepang yang sedemikian modern ini masih ada ritual penjor seperti ini. Penjor ini mengingatkan saya pada bulan ramadhan di kampung halaman. Dulu ketika penerangan malam masih menggunakan “dimar gaspon”, setiap bulan ramadhan tiba, masyarakat kampung saya selalu membuat penjor yang kita nyalakan di rumah kita masing-masing. Sekarang setelah malam terang benderang oleh listrik, tradisi penjor itu hilang entah ke mana.

Beberapa hari setelah ritual ini kebetulan di Indonesia masuk bulan ramadhan. Sebelum bulan ramadhan biasanya masyarakat Jawa mengadakan tradisi slametan yang disebut dengan megengan. Prinsip dasar acara slametan adalah shodakoh atau dalam bahasa Jawanya “sedekah”. Slametan, sesuai dengan asal katanya bertujuan agar orang atau keluarga yang mengadakan slametan itu mendapatkan slamet atau selamat. Di acara itu selalu ada kenduri, oleh karena itu disebut juga dengan kendurian atau bahasa Jawanya “gendoren”. Dalam acara slametan ini selalu mengundang tetangga kanan-kiri. Ada tiga tahap yang dilakukan dalam kendurian. Pertama, ada seorang tetua yang mengucapkan tujuan kendurian, kedua ada seorang kyai yang membaca doa secara Islam, dan ketiga setelah didoai, makan bersama. Makan kenduri bersama tetangga kanan kiri, atau secara kasar dapat diistilahkan dengan memberi makan kepada tetangga kanan kiri inilah yang dimaksud sedekah. Setelah acara slametan yang disebut dengan megengan ini biasanya orang yang mengadakan kendurian akan melakukan ziarah kubur atau nyekar tadi. Saya tidak tahu apakah prinsip dasar megengan dan ritual di Jepang yang sedang saya bicarakan ini mempunyai unsur kesamaan ya?

Kembali ke laptop. Selain penjor, ada juga yang membakar jenis kayu tertentu di atas genting, dan menaburinya sesuatu yang saya menganggapnya semacam “kemenyan” seperti foto berikut ini.

DSC_0018blogYang saya rasakan, kampung itu baunya kas sekali ketika itu, entah karena barang yang dibakar itu, atau bau kayu-kayu dari tukang kayu yang berada di sekitar itu, kebetulan ada beberapa tempat tukang kayu di daerah itu.

Tradisi ini mirip dengan nyadran di Jawa. Tapi saya lebih teringat kepada tradisi bakar kemenyan di Jawa. Pada waktu-waktu tertentu (misalnya malam Jumat Kliwon), atau ketika punya gawe (pernikahan, sunatan, dll), orang Jawa sering mengundang dukun untuk “memagari” rumahnya dari mara bahaya (ada juga yang dilakukan sendiri). Ketika itu ada yang menggunakan media bakar kemenyan. Dan caranya mirip dengan foto di atas, bakar sesuatu di atas genting.

Saya tidak tahu, apakah bakar kemenyan ini berasal dari tradisi Budha ya? Yang jelas tradisi Jepang seperti foto di atas konon adalah tradisi dari agama Budha yang ada di Jepang. Budha yang berkembang di Jepang ini menjadi aliran tersendiri. Oboosan dalam Budha di Jepang diperbolehkan menikah dan punya anak. Kepala sekolah TK anak saya adalah seorang oboosan juga, beristri dan beranak. Dia sangat santun dan bijak sekali ketika berbicara.

Masih dalam hubungannya dengan mengantarkan arwah, selama dua hari berturut-turut dilakukan upacara yang berupa tarian seperti foto di bawah ini. Tarian ini sebenarnya mengiringi rombongan oboosannnya yang masuk rumah untuk berdoa.

DSC_0019blogTarian ini dilakukan di depan rumah dua orang warga dalam satu hari selama kurang lebih 20 menitan. Jadi dalam satu tahun akan ditampilkan empat kali, dengan cara bergiliran dari rumah ke rumah warga berdasarkan kesepakatan.

DSC_0040blogSelama dua puluh menitan itu juga, beberapa penarinya harus memanggul beban yang kelihatannya tidak ringan. Yang khas dari tarian ini adalah kostum yang dipakai para penarinya dan musiknya. Kostum tarinya seperti terlihat di foto, empat di antaranya diharuskan memanggul semacam sayap raksasa. Di sayap itu tergambar simbol tiga penguasa pada jaman dulu. Sedangkan musiknya sangat khas sekali, terdengar “dug, dug, jleng……. dug, dug, jleng…..” terus menerus.

DSC_0045blogMendengar musiknya tarian ini mengingatkan saya pada dongeng nenek saya di kampung tentang bagaimana caranya mencari seorang anak yang digondol gondoruwo. Mendengar musik “dug, dug, jleng….. dug, dug, jleng…..” seperti itu saya merinding campur takut persis seperti saya waktu kecil mendengarkan dongeng nenek tentang gondoruwo itu. Saya tidak tahu, kenapa musiknya mirip dengan cerita nenek. Apakah musik-musik yang berhubungan dengan arwah dan dunia gaib itu mempunyai keuniversalan ya? Wallohua`lam.

Setelah selesai menari, beban dipunggung itu diturunkan. Seperti foto di bawah ini.

IMG_0827blogSaya mencoba untuk mengangkat sayap itu. Ternyata cukup ringan. Yang membuatnya berat adalah karena tiupan angin. Kalau kebetulan ada tiupan angin, mereka harus menahan sayap-sayap itu agar tidak ambruk. Agar bisa membayangkan seberapa lebar, seberapa besar sayap-sayap itu, saya menyuruh keluarga untuk berada di antaranya, seperti foto di bawah ini.

DSC_0070blog

Ritual tarian ini biasanya diadakan menjelang matahari tenggelam sampai keadaan menjadi betul-betul gelap. Hal ini tentu saja berhubungan dengan penjor yang akan kelihatan menyala ketika menjelang matahari tenggelam.

Salam,

Roni (90)

4 Tanggapan

  1. wah, jadi pengen ke Jepang!
    pengen liat secara langsung….!!

  2. Hhmm..Kalo menurut saya toh malah mereka ini yang benar2 sangat toleran dan bisa menjaga Budaya Pak…
    Tidak masalah mereka melakukan ritual seperti itu toh mereka tidak menganut agama yang sama dengan kita(maksudnya dalam agama mereka melakukan hal tersebut tidak ada larangannya), beda sama masyarakat kita yang katanya ngaku Islam tapi masih melakukan hal2 berbau musrik… Naudzubillah…
    Nah, yang buat saya senang, di samping hiruk pikuk kemajuan zaman yang ada di Jepang sana, namun masih ada juga masyarakatnya yang melestarikan budaya🙂

    Bagaimanapun juga tahun 2012 saya harus bisa mendapatkan beasiswa ke sana🙂

    Salam semangat selalu

  3. Bocah Bancar, salam kenal.
    Nihongo o gambatte, mombukagakusho nado no shiken o ukete, nihon ni kite kudasai. Nihon no fun`iki ya bunka nado o jibun de kanjite kudasai.
    Tetap jaga semangat ya.

  4. wuih keren ya…..
    bnr km nin pgen liat langsung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: