Budaya dan Rutinitas Pengajaran

Berikut tulisan Puguh `90 dari milis unesaprodijepang, yang sedikit diedit oleh Pak Lurah.

Sekedar uneg-uneg yang selalu tersirat di benakku tentang system pengajaran di tanah air, mulai dari SD, SMP, SMA bahkan Perguruan Tinggi. Yang saya tahu selama ini  banyak bahkan hampir kebanyakan guru di Indonesia melakukan akitivitas mengajarnya hanya sekedar rutinitas keseharian, dengan sepatu yg disemir sampek nggilap, dengan seragam yg disetrika licin, mereka pergi ke sekolah, sehingga kita sangat akrab sekali dengan LOOK seorang guru, “ano hito sensei danaa”tte, sugu wakaru.
PENAMPILAN memang diperlukan, tapi, bukankah ada yg lebih penting dari itu, yaitu MENAMPILKAN PENGAJARAN, alias gairah untuk menyampaikan pengajaran, itu jauh lebih penting dari segalanya. Buku yg dipake itu-itu saja, materi yg diajarkan juga itu-itu saja. Dengan sistem pengajaran seperti ini Alhamdulillah semasa kuliah mata kuliah yang ada hubungannya dengan nihongo hampir semua saya dapat nilai A. Karena kalau mau kreatif sebenarnya kita bisa mereka-reka soal yang akan keluar dalam shiken dari para sensei juga sekitar itu-itu saja, okagesama de…

Meski sekarang saya tidak dijalur pendidikan, sambil kuliah, saya dulu pernah sempat ngajar juga sekitar 2 tahun di salah satu SMA di Surabaya. Terus terang waktu itu aku ngajar juga hanya sekedar rutinitas saja, karena buku yg dipakai juga sama waktu aku belajar di SMA. Sehingga isi buku itu sampek hapal 100% diluar kepala dari halaman 1 sampek selesai.

Saya tahu persis kemampuan bahasa jepang yg dimiliki sensei di Jurusan. Saya kagum dan bangga, betapa hebatnya beliau-beliau. Saya rasa kemapuan bahasa jepang yang dimiliki para sensei kita sudah sangat mencukupi dan memadai untuk disampaikan kepada mahasiswanya. Saya rasa yg lebih perlu untuk diperbaiki dan direvisi adalah sistem pengajarannya, tidak mengajar hanya sebagai rutinitas. Alangkah baiknya kalau para sensei tidak studi hanya sekedar memperdalam nihongo-nya thok, tapi perlu training, observasi secara langsung, banyak belajar tentang Sistem pengajaran, startegi belajar mengajar. Saya sering pergi ke SD dimana anak-ku belajar, saya melihat betapa bergairahnya para sensei berdiri di depan kelas, juga diluar kelas, seperti pada acara undoukai misalnya, dan susana belajar mengajar sangat bervarisai, murid juga sangat bergairah mengikuti pelajaran dan tidak ada kesan jemu.

Alangkah indahnya kalau kata “rutinitas” berubah menjadi arti, warna , dan corak yg baru,tanomoshii desu na…
Sensei…gambatte kudasai…oen shimasu..do your best… ohh no, do our best.

Salam,
Puguh ’90

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: