Hormatilah aku, karena aku puasa!

“Hormatilah aku, karena aku puasa!”

Mungkin itulah kata hatiku tadi siang. Yah, persis…… perasaan itu sama persis seperti ketika aku berpuasa ramadhan di Indonesia. Aku puasa maka kamu yang tidak puasa harus menghormati aku. Apalagi (mohon maaf) kamu yang non muslim Jepang, “harus” sekali lagi “harus” menghormati aku.

Huh… hormat? Ini di Jepang Bung! Siapa yang akan menghormati kamu kalau puasa? Siapa yang tahu kalau kamu puasa? Bahkan mungkin, kalau kamu menceritakan tentang puasamu kepada orang Jepang, paling dia akan bertanya, “Apa itu puasa?” Dan kamu berusaha sedetil mungkin untuk menjelaskan dengan bangganya bahwa puasa itu tidak boleh makan, minum, mulai terbit fajar sampai bla… bla… bla. Sejenak kamu akan mendapatkan kebanggaan dengan terpananya orang Jepang itu. Akan tetapi, di akhir cerita paling-paling orang Jepang itu akan memuji “Sugoi desune (hebat ya).” Hanya itu yang kau dapatkan. Ya, hanya itu. Selanjutnya, setiap kali bertemu dengannya kamu akan memdapat simpati, “Daijobu desuka? (kamu ndak apa-apa hari ini?)”

Huh…. Orang Jepang ini mulai memuakkan. Betapa aku dengan bangganya menceritakan kesakralan puasa, reaksinya hanya seperti itu. “Asem iki!”, mungkin begitu kata hatiku meminjam ungkapan yang sering digunakan pelawak Tukul.

“Aku lagi puasa, tolong dong aku dihormati!”

Aku berusaha menghilangkan perasaan itu, tetapi bagaimanapun sulit menghapusnya sampai bersih di hati ini. Sangat manusiawi. Aku juga sadar betul bahwa kalau perasaan itu ada dihatiku maka aku termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sombong. Dan, kesombongan itulah yang akan melumatkan nilai pahala puasaku. Bagaimana mungkin aku akan puasa kalau tidak ada pahala? Bagaimana mungkin setelah seharian menahan lapar tidak mendapat ganjaran.

Ha ha ha rasakno dhewe saiki (rasakan sendiri sekarang). Salahnya sendiri membawa-bawa urusan dengan Tuhanmu, ke dalam urusan dengan sesamamu. Ya hanya kesombongan itu jadinya. Kamu di Jepang Bung! Jarang ada orang Jepang yang tahu akan puasa.

Di Jepang ini warung buka di mana-mana, bahkan banyak diantaranya yang buka sampai 24 jam, sepanjang tahun. Tidak pernah kedengaran kumandang suara adzan. Ketika di Indonesia, betapa kumandang suara adzan ini menjadi acara favorit yang ditunggu-tunggu banyak orang. Tidak ada ronda, kamu harus menandai sendiri kapan waktunya berbuka, kapan waktunya sahur. Aku ingat betul suasana ramadhan di kampungku Tulungagung sana, ketika menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sholat ashar yang biasanya di rumah, aku usahakan berjamaah di Mushola. Lebih dari itu, hanya semata-mata keinginanku untuk ikut memukul bedug.

Bedug itu barang yang “sakral” di mushola kampungku ini. Bagaimana tidak, di luar bulan puasa, bedug itu hanya dipukul ketika dipergunakan untuk panggilan sholat lima kali saja sehari. Ya, hanya ketika bulan Ramadhan ini saja kita diperbolehkan memukulnya lebih sering. Demikian juga halnya dengan hari ini. Setelah sholat ashar berjamaah, dan atas suruhan Kyai Atim, kami memukul bedug bergantian dengan teman-teman.

Bukan hanya kami yang anak-anak saja, Mbah Saleh yang sudah tua pun ingin memamerkan kejayaannya ketika masih muda dalam hal seni memukul bedug. Aku tahu bahwa Mbah Saleh si tukang batu itu juga mempunyai perasaan sama dengan kami yang masih anak-anak ini dalam menyambut Ramadhan.

“Memukul bedug itu tidak boleh sembarangan, harus memakai seni irama tingkat tinggi.” begitu ceramah Mbah Saleh.

Begitu dentuman suara bedug bertalu-talu, begitu pula getaran hati menggelora memasuki relung-relung aliran darah, dan mendirikan bulu kuduk. Bukan karena takut akan hantu, tapi karena haru menyelimuti seluruh tubuh. Mendengarkan gelegarnya suara dentuman bedug seperti itu, terasa hati ini terbakar, bergetar, ingin berteriak kepada orang-orang sekitar seperti semangat pidato Pak Lurah Roji.

Sedulur-sedulur, bulan ramadhan sudah di depan mata. Bulan yang kita tunggu-tunggu selama setahun ini akhirnya sudah tiba, dan kita harus menyambutnya. Tingkatkan keimanan kita dengan berpuasa.”

Bukan hanya itu. Malamnya setelah sholat terawih, kami mengikat janji dengan teman-teman sebaya untuk tidur di Moshola. Ya, apalagi kalau bukan untuk ronda, membangunkan orang-orang kampung untuk makan sahur. Belum lagi, ini malam sahur pertama. Jangan sampai orang-orang sekampung tidak puasa karena lupa tidak sahur. Kami sudah menyiapkan tiga buah kentongan dengan berbagai suara sejak dua minggu yang lalu. Kami juga sudah menyiapkan pikulan dari bambu ori guna mengusung bedug untuk diarak keliling kampung. Demikianlah, sejak saat itu hampir setiap malam jam 3 pagi kami beronda. Setelah beronda kurang lebih 30 menit, sudah pasti kami masing-masing pulang ke rumah masing-masing untuk makan sahur. Dengan demikian, mulai besok kami pun harus ikut memulai puasa.

Tapi ini Jepang Bung! Mana ada bedug, mana ada ronda. Di Indonesia kamu selalu diingatkan oleh lingkunganmu bahwa kamu sedang puasa. Warung-warung yang biasanya terbuka ditutup kain, karaoke diskotik ditutup atau dibatasi waktunya, apalagi panti pijat dan lokalisasi sama sekali tidak diijinkan beroperasi. Belum lagi ada kelompok tertentu yang mengobrak-ngabrik warung makan di pinggir jalan hanya karena tidak menutup warungnya dengan kain. Masya Alloh, apa untungnya dilakukan itu. Yah, mungkin terselip jawaban seperti perasaanku siang tadi: “Hormatilah orang yang sedang puasa”, “Hormatilah orang yang sedang menjalankan ibadah Ramadhan”, “Jangan mengganggu orang yang sedang puasa”, dan kalimat-kalimat sejenis lainnya. Itu namanya ura`an, sok, kesombongan Bung!

Tapi ini bukan di Indonesia, ini di Jepang. Hal-hal seperti itu tidak ada. Hiruk pikuk kehidupan sehari-hari tidak ada perubahan. Baik bulan ramadhan maupun bulan-bulan lain sama. Aku tersadar, bahwa puasaku hanya semata-mata urusanku dengan “Yang di atas sana”. Kalaupun berurusan dengan sesama, itupun hanya dengan istri dan anakku, tidak lebih. Aku berpuasa untuk diriku sendiri, kalaupun dengan sesama paling-paling hanya untuk mengajari anakku latihan puasa, bukan untuk pamer kepada orang Jepang di sekitarku.

Egois? Kamu minta lingkungan Jepangmu untuk menghormatimu? Mana mungkin kau dapatkan. Di sinilah perasaan “gila hormat” itu mencapai titik terendah, dan Insya` Alloh kesombongan itu hilang. Nol, yah NOL. Di sini pula aku dapat melakukan puasa yang sesungguhnya, hanya semata-mata demi Gusti Alloh pengeranku, Gusti yang menguasai hidup. Tanpa ada yang mengomando, tanpa ada warung yang tertutup, tanpa ada karaoke dan diskotik tutup, apalagi ada sekelompok orang yang mengobrak-ngabrik warung orang kecil dipinggir jalan yang justru “merendahkan” agamaku. Semuanya seperti biasanya, tidak ada perubahan.

Le, puasamu ini hanyalah urusanmu dengan Gusti Pengeranmu”, begitulah Pak De Lamijo dulu sering menasehatiku.

Yang berbeda hanyalah suasana perasaanku. Di sana ada sinar-sinar cerah yang sedang merajut hubungan baiknya kembali dengan yang “Mbau rekso urip”. Ya, hubungan yang mungkin sebelum ramadhan terkoyak oleh lingkungan yang memang tak terkondisikan.

By: Roni ‘90

Nagoya, Ramadhan 2007

Satu Tanggapan

  1. ALLAHU AKBAR!!!
    Semoga kita semua digolongkan ALLAH menjadi muslim yang bertaqwa.Amiin…..

    Sueb Rahab, 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: