Angkatan ’97… “Angkatan tersisih, terpinggirkan, terbuang”

Jangan dulu merasa panas atau sinis melihat judul di atas……. Kalimat di atas bukan kalimat yang hiperbolic atau melebih lebihkan….. tapi sangat real..sangat nyata dan sangat ironis dialami oleh temen-temen angkatan ’97 (termasuk saya tentunya).
Dimulai saat Penerimaan Mahasiswa baru angkatan ’97 dan saya termasuk salah satu yang masuk dalam daftar diterima di jurusan bahasa jepang…. bahagia dan bangga tentunya….. tapi hal ini tidak berlangsung lama, karena dalam kebijakannya, Ikip Negeri Surabaya (waktu itu, sebelum berganti UNESA) mengatakan bahwa mahasiswa FPBS menempati lahan baru / kampus baru di LIDAH WETAN…. LIDAH … tempat manakah itu….. selama hidup tidak pernah mendengar desa / Daerah dengan nama
LIDAH…….
By the way…..setelah berjuang dengan semangat menyala-nyala (Karena panasnya LIDAH kali), akhirnya kami semua bisa memulai kuliah di Lidah Wetan……. awal-awal kuliah yang kami lalui terasa sangat menyenangkan, bertemu dengan temen-temen dan sahabat yang baru…. orang-orang baru, tempat yang baru (Lebih tepat dikatakan “Asing”)….. tapi hal tersebut terasa ada yang kurang yang membuat kami serasa bukan seorang mahasiswa…… Kami memang harus belajar ato study di kampus baru, kampus yang gersang, jangankan Pohon rindang, Rumput Ilalang pun seakan menghilang…. sehingga saat selesai kuliah, kami seolah malas untuk pulang… bukanna kerasan di kampus, tapi melihat jalanan yang seolah padang pasir…. Panas bukan kepalang…….. kami kuliah di
sana hanya ada satu angkatan saja…. Angkatan ’97….. kami tidak punya kakak kelas… kami tidak punya senior yang membimbing kami……..kami hidup dan kuliah setiap hari hanya dengan 40 orang saja…… (mau ke FPOK/ FIK sekarang, terlalu jauh dan mereka terlihat terlalu kasar, mau ke FIP juga lebih jauh lagi).
Praktis… kami kuliah dengan semangat dan karakter yang kita bawa dari SLTA….. dan saat kuliah pun kami tetap seperti anak SLTA…… hampir tidak ada perubahan Wawasan apalagi karakter…….. Ternyata tidak cukup disini…. Dosen yang mengajar kamipun hampir tiap hari orangnya sama….. “NISE Sensei” Dosen kesayangan kami, sabar, lucu, ramah dan senang curhat ke mahasiswa saat mengajar (Gimana Kabarnya Bu…. eh Sensei… ii desu ka..?) yach.. hampir hanya bu nise yang mengajar kami,,, mulai dari kiso nihonggo, menulis, membaca (saya lupa nama mata kuliahnya) pokoknya apapun mata kuliahnya dosennya tetap Nise Sensei (Kayak iklan Sosro yach)…. sedangkan dosen lainnya seperti Pak Bandi hanya sempat mengajar 1 Kali pertemuan, kemudian digantikan lagi ama Nise Sensei… Kemudian ada lagi dosen yang masih muda, cantik, yang selalu pake rok, dengan sepatu berhak 5 Cm yang sedikit memberikan kesejukan (Lupa juga namanya….) itupun juga hanya ndak lebih dari 2 bulan,,, kemudian diganti lagi ama Nise sensei…….. Hidup Bu NISE….. Hidup NISE Sensei…… Yach…kami hanya mengenal Bu Nise sebagai Dosen sekaligus Wali kelas Kami… (Kayak anak SD Yach……..) Nasib sial tidak berhenti disini saja. karena kampus baru, semuanya baru dan dengan kondisi Kampus lidah yang kering kerontang….(seperti saat musim panas di Jepang….) praktis tidak ada Pohon yang rindang, dan Air menjadi Hal yang sangat langka…)…. Kalau bicara masalah Air… yang paling Kasihan adalah Temen temen perempuan…. Lho kok bisa….. yahh… saat kita ingin ke Toilet, ternyata di Toilet hamper tidak ada Air… sehingga kalo mau BAB / BAK temen-temen harus pake air Mineral tuk Cebok…. ihhh jorok yach…. tapi gimana lagi… begitulah kondisinya…. sedangkan yang cowok… cukup (Ma’af) disentil ato ditempelkan ke tembok… bayangin aja gimana Baunya….. Pesink Habis…. Saat musim hujanpun, ternyata keberadaan Air lebih menyusahkan kami yang akan kuliah… dengan kondisi kampus lidah yang seperti itu…. dan belum ada jalan ato akses yang memadai (Hanya jalan setapak, sekarang dah di aspal mulus), sehingga untuk mencapai kampus kita harus extra hati hati karena melewati jalan yang super becek dan bayank kubangan airnya, sehingga banyak temen (terutama cewek) yang harus balik ke kost karena tercebur di kubangan …….. (Kasihan lucky…Temen cewek yang agak over weight dan sangat sering tercebur kubangan…. Piye kabare)…… itulah sedikit gambaran kenapa saya mengatakan kalo Angkatan ’97 merupakan “Angkatan tersisih, terpinggirkan, terbuang”…. saya sendiri saat menulis ini juga tertawa sendiri, bahkan sedikit mengeluarkan air mata (Cengeng yach….). Terlalu banyak hal kelam, suka n duka yang kalau ditulis di milis akan sangat panjang….(andaikan saya seperti Andrea Hirata, kali akan jadi Novel… seperti “Laskar Pelangi” kali) sayang saya bukan penulis yang baik… dan di Lidah hampir tidak pernah ada PELANGI…….
Salam..
Mohammad Anam
Alumni Bahasa Jepang ’97 (dah merasa ndak di luar sistem nich:)…..)

12 Tanggapan

  1. Komentar dari Pak Subandi:

    Salam Semuanya,
    Mas Anam, selamat ya. Mungkin tanpa Anda sadari bahwa Anda sebenarnya telah memperoleh suatu keberhasilan yg luarbiasa dalam kondisi lingkungan dsb yang jauh-jauh dan sangat jauh dari standart kelayakan. Mungkin hal itu yang seharusnya Mas Anam Syukuri, karena dalam keadaan yang serba minim,
    Mas Anam masih bisa bertahan dan bahkan sampai dapat menggapai hasil (terlepas hasil tsb memiliki kontribusi langsung terhadap kehidupan kita atau tidak). Jika Mas Anam berkenan menyempatkan utk melihat ke dunia luar, coba, banyak mereka yang hidup dalam kemudahan akibat ketersediaan fasilitas
    hidup, tetapi tetap saja mereka tidak mampu meneruskan perjalan kehidupan akademik (DO). Sebenarnya kemauan (komitmen, konsistensi), kejujuran, dan keikhlasan kita dalam menjalani kehidupan ini yang menjadi kunci nikmat dan tidaknya realita hidup. Jika kita pernah dengar ungkapan “Kenikmatan
    membawa Kesengsaraan” maka kita harus berani membaliknya, dengan menempatkan diri sebagai “subyek hidup” atau pelaku kehidupan. Coba, jika kita melihat org yg dengan kondisi fisik sempurna dapat berlari dalam 5 menit sejauh 1 km, dengan org yg memiliki keterbatasan (anggota tubuh secara fisik
    khusunya kaki dan atau tangan tdk/kurang sempurna) tetapi dapat berlari dengan kondisi kecepatan dan waktu sama, mana yg menurut Mas Anam lebih hebat? Tidak usah saya jelaskan pun Mas Anam pasti sdh tahu kan? Hal itu sama seperti kita, dalam kondisi yg serba kurang tetapi ketika kondisi tsb
    memberikan hasil, betapa nikmatnya hasil tsb. Nah, saat seperti inilah kita perlukan kebesaran jiwa, keihklasan, bertanggungjawab utk menjalani kehidupan. Dengan dasar jiwa seperti itu dan ditopan oleh keihklasan bersyukur, tidak ada rasanya sesuatu yg tidak nikmat. Memang dalam menjalani hidup,
    kita tdk boleh melihat ke atas terus. Kita harus melihat ke atas dan bawah, ke depan dan belakang, ke kanan dan ke kiri. Semua arah yg kita lihat memiliki fungsi dan peran motivasi masing-masing. Ke atas, jadikanlah keberhasilan org lain sebagai motivasi diri agar kita bisa bersemangat utk lebih
    giat lagi (jangan malah jadi iri hati atau sakit hati, wah malah bisa cepat jantungan). Ke bawah, menyadarkan/instropeksi diri guna memperoleh pengakuan jati diri, dari diri kita sendiri. Yaitu, ketika kita ada kenikmatan dan kebahagian, saat itu pula kita harus melihat ke bawah, agar kita ingat
    bawha pada suatu saat kondisi yg ada dibawah kita juga bisa terjadi pada dirikita (nggak sombong maksudnya). Selain itu ketika kita mengalami kegagalan jika kita mau melihat ke bawah, ternyata masih ada kehidupan di sekitarka yang tingkatnya jauh lebih bawah dari kita (membangkitkan semangat dari
    keputus asaan). Melihat ke depan, sebagai bentuk kehidupan utk memperoleh gambaran kehidupan kita mendatang yg akan kita capai (sbg sketsa). Hal ini agar kita memiliki bentuk kehidupan yang bervisi dan terencana. Jadi hidup bukan hanya spontanitas saja. Melihat belakang, coba sekali-sekali kita
    melihat keindahan jejak langkah-langkah kehidapan yg telah kita lalui (dalam bahasa Jepun katanya sih Ayunda michi. Ya sekali-sekali jiman pada diri sendiri kan boleh juga. Ooo ternyata aku juga bisa to). Ke kanan dan kiri, pada prinsipnya sama, yaitu utk mengingatkan kita, agar kita ingat bahwa
    di sekitar kita juga ada kehidupan “habitat” lain (kehidupan org lain maksudnya, bukan mahkluk lain). Hal ini kita lakukan, agar kita tidak egois, ya sekali-kali (berarti lebih dari 1kali kan) tepo sliro, tenggang rasa, kerjasama, tdk mengganggu org lain, tdk menyakiti atau menyinggung hati org
    lain.
    Waaaaaaaaaaaaah, sok menggurui ya. Padahal saya sendiri sangat sulit mejalani (He..he…). Intinya, mari kita syukuri, jalani dengan keihklasan dan penuh tanggungjawab kehidupan ini. Maka “SENGSARA MEMBAWA NIKMAT” akan dapat kita capai.
    Masalah mengajar Mas Anam, waduuuuh, saya juga masih teringat, ngajar satu kali di ruang lantai 3 yg menghadap ke utara ya. Natsukashii ne. Saat itu (th 1997) memang saya hrs ke Jpn utk studi sampai th 2004. Tidak banyak mahasiswa 97 yg saya ingat. Mas Anam juga jika saya ketemu di jalan mungkin
    nggak tahu, bahkan Mas Anam juga sudah lupa dg saya. April th 2004 saya kembali ke Unesa dan ngajar sampai th 2008, eeeeee ya Alhamdulillah ternyata saya dapat beasiswa lagi utk penelitian ke Jpg selama 10 bulan terhitung sejak tgl 8 Juni 2008 sampai 7 April 2009. Lumayan, bisa utk mengaktualisasikan keinginan meneliti saya. Ya ini juga merupakan wujud dari “SENGSARA MEMBAWA NIKMAT”, karena utk mendapatkan beasiswa ini juga nggak mudah. Kalau nggak mudah berarti kan sengsara. Ya nggak apalah sengsara sejenak, tapi kenikmatannya kan lebih lama. Ya Mas Anam ya, mari kita
    sama-sama mencoba jadi insan yg berjiwa ikhlas dan bersyukur.
    Saya jarang mengikuti forum ini, nggak tahu ketika melihat judul e-mail Mas Anam kok tertarik dan saya coba buka. Semoga respon saya ini dapat bermanfaat bagi kita. Yg tdk setuju ya tdk apa-apa, kan yg baik bagi saya belum tetntu baik bagi org lain. Pokoknya Lakumdinukum Waliadi.

    Salam utk semua

    Semoga jadi Dosen Kesayangannya Mas Anam (He..he…maksa)
    SUBANDI

  2. nam, aku nggak ngerasa panas kok di Lidah dulu.
    maklum ada yang ngademin sich….tEbaK SiaPa???ato APa???? he..he..

  3. anam san, dirimu melaz banget seh tulisane…….
    yah pertama kali merasakan kuliah di Lidah memang agak shock…panasnya itu loh & jarak dari rumah 20km. Wusss alhasil brangkat dari rumah maksimal stgh 6 pagi. Tapi tetep gak patah semangat kok meskipun sering telat & nilai pas pasan (he he ngaku). Mudah2an temen2 & sensei masih inget sama kita arek suroboyo yg terkenal suka mbolos, dateng telat, hobi nyontek, tukang ribut (SYLVI, YUNI, ANA, NENTO) tapi baik hati dan suka menolong (wekksss…). Apalagi waktu menjelang semester akhir aq dapet kerja di Konsultan Proyek Bandara Juanda (Konsultan LAPI ITB & Japan Airport Consultants) as a secretary. Seneng & kaget dapet kerja (apalagi salary lumayan bs buat nyicil motor). Takut coz jepangku pas pasan. Bayangkan pagi aq dapet ijin kuliah dulu sampe jam 12. Jadi rutenya Rungkut-Lidah-Juanda-Rungkut by motorcycle. Belum lagi kalo ada kuliah yg ditunda siang jam 2. Rutenya berubah lagi Rungkut-Lidah-Juanda-Lidah-Rungkut. Untung encok gak kumat. Pas skripsi apalagi bisa2 di kantor sampe jam 10 malem, demi mengerjakan skripsi, waktu itu aq gak punya komputer daripada ke rental mending pake komputer kantor, penghematan. But I never complain about it, it makes me strong, it’s life, you must face it. Aq cuma menerapkan satu ilmu dari The Secret: IF YOU THINK YOU CAN DO IT, SO IT CAN BE. Pokoke positif aja deh & anggap semua gampang dijalani. Wah kedawan iki komentare. Wisss ah……

  4. phi… a wise quote from you….i love it… and i love you…he..he…

  5. salam buat smua

    asyik juga tulisanmu dik anam, tapi ga salah juga yang ditulis pak bandi. kalo saya pikir sih dua tulisan itu saling melengkapi. tergantung kita melihat dari sisi yang mana. tapi asyik banget tulisanmu nam. coba aja dikembangin lebih lebar bisa jadi cerpen yg menarik. karna memang berdasarkan realita. dari tulisan seperti itu kita bisa mengambil banyak hikmah dan tentunya bisa ketawa-ketawa mengenang masa lalu….

  6. Mir ojo love love-an di sini ah….isin aq…salam gawe yayangku Mas Him yo yg telah membuat Lidah serasa di Paris…kek kek kek

  7. Ya ampun Nam… hehe jadi inget masa 11 tahun lalu neh… Pernah jadi tetangga kos Anam juga ya?
    Ya, smua ada hikmahnya…. kita jadi ngerasain natsu duluan kan sebelum kita ke jepang…
    Vi, setuju tuh… kalau buat Mira, Lidah-Ketintang seperti Romantic of Kobe gitu…
    Vi, ga karaoke lagi? (ketemuanya di parkiran sih.. he..he..)

  8. gak nyangka Mas Him jadi yayang orang banyak yo …:-)). malahan sekarang kalo ketemu kakak-kakak kelas yang satu jurusan maupun beda jurusan, ingetnya ma aku tuh “pacarnya Himmawan dulu, ya???”..hik..hikk…sebel. emang sekarang udah enggak?!?. trus mahasiswa juga sama. kayaknya aku harus lebih sering go public neeehhhh…..

  9. Ohayou,, my Friends..

    Memang Keberhasilan dan Kegagalan adalah satu Paket Kesuksesan yang tidak bisa dipisahkan..

    Tetap Semangat..!!!

  10. Ohayou lagi…

    Ada yang tau kabarnya tomodachi qta si “Jhon 97”?
    alamat/nomer-hp/email?

    Doumo.

  11. saa… anam san sorewa kawaisoudana.
    osssuuuuu….
    minnaaaaaa….. ogokiburi…
    suman………
    hissashiburi……
    natsukashii….

    minna, genki?

  12. Tulisan mas Anam sangat menarik, kalau tidak salah ada satu lagi tulisan mas Anam yg menarik, masuk judul apa ya tulisan itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: