Nihongo Kyoiku Shiken

Sempai, dokyusei narabini kohai no minasama,

Saya di”ojok-ojok” oleh salah satu dosen bahasa Jepang di kampus untuk mengikuti mata kuliah nihongo kyoiku. Saya rasa Ikhwan dan Umul kenal dengan Adachi Sensei yah,..Dia bilang, S1 kamu kan Nihongo Kyoiku, mottainai,..

Padahal salah satu alasan saya untuk “melarikan diri” dari “pendidikan” dan “linguistik” dan memilih bidang lain untuk penelitian karena dulu agak2 trauma setiap mengikuti mata kuliah2 itu (buka rahasia lama)…

Tapi akhirnya saya iseng untuk ikut kelas Nihongo Kyoiku tsb dan yah, cukup menariklah (mungkin faktor sensei juga yang akarui dan open minded, beliau memang berasal dari Kansai).

Nah, kelas ini adalah kelas persiapan untuk mengikuti nihongo kyoiku shiken, untuk memperoleh nihongo kyoin shikaku. Namun, memang tingkat kelulusannya sangat rendah, hanya 20% dari seluruh peserta (orang Jepang) dan untuk orang asing mungkin hanya dibawah 10%.

Itupun kebanyakan dari Cina dan Korea. Saya tidak punya data berapa orang pengajar dari Indonesia yang mempunyai sertifikat ini. Dan menurut beliau, seseorang yang mempunyai shikaku ini sangat mudah diterima sebagai tenaga pengajar pada sekolah2 bahasa Jepang ternama.

Di dalam kelas ini juga dibahas tentang tujuan akhir pengajaran bahasa asing sebagai bahasa kedua atau bahasa ketiga. Dulu, tujuan akhir adalah si pembelajar tsb dapat berbahasa asing seperti native speaker. Namun, akhir2 ini, fenomenanya berbeda. Apabila seseorang berbahasa Jepang dengan logat Indonesia misalnya, tidak perlu dibesar2kan atau menjadi bahan tertawaan, karena itu adalah ciri khas si pembicara.

Bahkan, sekarang ini ramai diperdebatkan ttg definisi “native speaker”. Menurut beliau, tidak ada gunanya seseorang walaupun native speaker namun tidak punya kemampuan berkomunikasi dengan baik, misalnya.

Pengajaran bahasa juga tidak bisa terlepas dari masalah politik dan nasionalisme. Ini memang masalah sensitif, terutama di Cina dan Korea. Kalau di Indonesia mungkin beda (mungkin). Intinya, secara jujur pengajaran bahasa Jepang sangat menguntungkan negara Jepang itu sendiri baik dari segi politik, ekonomi dan sosial. Itu harus menjadi suatu motivasi bagi pengajar bahasa Jepang (tentu saja bagi guru orang Jepang ya..)

Dan untuk itu, seharusnya pemerintah Jepang lebih serius memperhatikan masalah pengajaran bahasa ini, baik dari segi teknis maupun finansial.

Tentu saja bukan hanya bagi Jepang, bagi Indonesia sendiri sebenarnya banyak keuntungannya belajar bahasa Jepang. Kita bisa mencuri ilmu dari mereka, spt yang pernah mereka lakukan pada saat restorasi Meiji, dimana mereka mencuri ilmu dari Eropa dan diterapkan serta dikembangkan di Jepang. Dan menurut saya, seharusnya ini menjadi program nasional,..tapi mimpi kali yah,..

Hal2 diatas sebenarnya cerita lama dan saya yakin sudah banyak yang tahu, jadi maaf ya, karena pengetahuan saya masih tingkat dasar.

Oya, sesuai dengan yang pernah ditulis Pak Lurah diblog, hingga saat ini mustahil untuk menghilangkan kanji dari bahasa Jepang, sebagaimana bahasa Korea yang saat ini sudah tidak menggunakan kanji lagi. Selain akan membingungkan juga akan membuat bahasa Jepang sulit untuk dipelajari.

Ingin dengar pengalaman dari sempai dan kohai yang pernah mengikuti ujian nihongo kyoiku ini. Sharing dong,..

Dan buat sempai dan kohai yang beruntung bisa belajar nihongo langsung di Jepang, barangkali ada hal2 yang berkaitan dengan nihongo kyoiku yang bisa dishare dimilis ini atau diblog, mengingat masih banyak dari lulusan Unesa yang konsisten tetap berkecimpung di bidang pendidikan.

Salam dari desa Niigata,

Jenny (`88)

2 Tanggapan

  1. Ujian nihongo kyoiku no koto ni tsuite watashi mo shiritai naa,..
    Masalah definisi native speaker,… rasanya aku setuju dengan pendapat orang yang `bisa memaklumi` seseorang yang punya kompetensi tinggi tapi gak bisa ninggalin logat,… shikata ga nai yo ne,…

  2. minasan.. khusus nya Jenny san and mbak parastuti…

    salam hangat (panas) dari surabaya….
    selamat menikmati niigata yg hangat…, eh panas..?

    sama Jen, aku juga agak jenuh gitu (persisnya nggak pengin lebih tau. hi hi…, ada lagi yg lebih persis: dasar nggak ngerti-ngerti !) soal nihongo kyouiku…

    kalo nihongo kyouiku kentei shiken sih aku punya pengalaman belajar. tapi gak jadi punya pengalaman ikut shikennya. ( tuh kan..??) sempet ikut bimbelnya aja.
    tempat tes hanya ada di tokyo (saat itu). jadi setelah kubeli formuilir via pos, dan sebelum kukirim lagi, aku yg sdh nyiapin bahan2 ut belajar, mengukur kemampuanku dengan mogi tesuto sendiri, dan hasilnya..??? jauuuuh dibawah standar. apalagi soal chokai nya…!! sempat juga ikut test bareng beberapa teman se- grup belajar – khusus ut ini. hasilnya juga sama…!! (gimana mau bisa? belajar aja nggak becus..!)
    kalo materi tes lain sih lebih terkait dengan linguistik jepang yg sdh dimasteri kang lurah and bos bandi itu.
    kata temanku yg sudah lulus tes ini,
    ada satu lagi yang gila. kita disuruh bikin rencana pengajaran atau course design dlm waktu beberapa menit utk suatu kondisi sekolah tertentu (sesuai dengan soalnya). jadi ya…musti terbiasa dengan urusan course design, membuat silabus, kyouan, dll.. mbak parastuti kan rajin dan pengalaman lagi. gambatte ya mbak.
    Jenny san, sapa tau jadi kejutan. yang senmon nya bukan nihongo kyoiku aja bisa lulus nihongo kyouiku kentei shiken…hebat, kan? kita jadi tambah semangat, pasti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: