Kanji… muzukashiiiii?

p1020826.jpg

Keterangan foto: Roni (90) & Nova (2001); lagi ngantar Nova untuk hanami di Tsurumai koen.

Hari ini aku iseng mengikuti mata kuliah Nihon Gengo Bunka. Ada beberapa hal yang menarik dan “nututi” untuk saya catat di buku kecil yang selalu terselip di tasku.

Dalam setiap pembelajaran bahasa Asing, tentu saja akan ditemukan kesulitan-kesulitan, yang mau tidak mau harus mau belajar karakteristik yang dimiliki oleh bahasa tujuan. Demikian juga kita sebagai orang asing yang mempelajari bahasa Jepang akan banyak menemui kesulitan; entah karena pelafalannya yang susah, konstruksinya yang memang beda dengan bahasa Indonesia, tapi yang paling banyak dikeluhkan tentunya keharusan belajar kanji. Tanpa belajar kanji terasa tidak sempurna bahasa Jepangnya, sama halnya belajar bahasa Arab tanpa menggunakan huruf araf.

Mengenai jumlah kanji ada “banyak”, ada yang mengatakan 50 ribu, 15 ribu, dua ribu, dan sebagainya. Konon menurut penelitian kanji yang digunakan di koran Jepang berjumlah 3213 buah dan do majalah Jepang 3328 buah. Ada juga penelitian lain yang mengatakan ada 4520 buah kanji. Sebenarnya berapa sih jumlah kanji yang tepat? Jawabnya tidak ada yang tepat, karena setiap hasil penelitian mengatakan jumlah yang berbeda.

Belajar kanji memang repot, tapi bisa dimulai dari kanji yang sering keluar baik di koran atau majalah. Dengan mempelajari kanji yang sering keluar tersebut kita akan dapat “memahami” sekian persen isi kalimat-kalimat yang tertulis dengan media kanji dan kana. Konon menurut penelitian 10 kanji yang sering keluar di koran dan majalah adalah sebagai berikut.

Koran

Majalah

Sebenarnya pada batas-batas tertentu berapa buah kanji yang kita butuhkan untuk bisa memahami tulisan bahasa Jepang yang ada di koran atau majalah Jepang? Atau pertanyaan ini kita balik: kalau kita bisa memahami sekian buah kanji kita bisa memahami berapa persen dari koran atau majalah Jepang? Menurut penelitian, jika kita bisa kanji 10 buah saja seperti tertera di atas, kita bisa memahami 8,8 ~ 10,6 % isi koran atau majalah. Jika kita bisa kanji 200 buah, kita bisa paham isi koran atau majalah sekitar 52.0 ~ 56,1 %, dan jangan terkejut jika kita menguasai 1000 buah kanji kita bisa paham isi koran dan majalah sekitar 90,0 ~ 93,9 %. Melihat angka-angka tersebut kayaknya kok mudah sekali ya. Tapi jangan lupa, itu hanya persoalan jumlah kanji. Kalau belajar bahasa Jepang kan tidak hanya kanji saja kan. Kita harus belajar tatabahasanya pula. Prosentasi pemahaman terhadap isi koran dan majalah dan perkiraan jumlah kanji yang perlu dikuasai adalah sebagai berikut.

10

50

100

200

500

1000

1500

2000

2500

3000

Koran

10,6

27,7

40,2

56,1

79,4

93,9

98,4

99,6

99,9

99,9

Majalah

8,8

25,5

37,1

52,0

74,5

90,0

96,0

98,6

99,5

99,9

Dengan melihat table tersebut di atas, mungkin ada yang beranggapan bahwa, kita sebagai orang asing cukuplah kiranya jika paham kanji sekitar 1000 buah. Kan bisa memahami 90% lebih isi koran dan majalah Jepang. Dan dengan jumlah kanji itu pula kita dapat lulus Ujian Kemampuan Bahasa Jepang level 2, karena memang jumlah sekian itu yang dipersyaratkan. Yah, itu sah-sah saja. Tapi kalau hanya bisa 1000 buah kanji itu berarti kemampuan kanji kita hanya sama dengan murid yang baru lulus SD di Jepang. Sedangkan untuk SMA diharapkan dapat memahami kanji yang ada di “Jooyoo Kanjihyoo” yang berjumlah 1945.

Ada lagi yang menarik: kenapa kanji di Jepang tidak mungkin dihapus/ditiadakan? Konon menurut hasil penelitian, seorang Jepang yang melintas lewat jalan tol di suruh memahami isi tulisan, sekali lagi “memahami” tulisan, bukan membaca. Hasilnya adalah mereka bisa memahami tulisan Jepang dengan huruf kanji lebih cepat dari pada huruf kana (hiragana dan katakana) dan huruf Romaji (latin). Dengan tulisan kanji 豊中rata-rata mereka dapat memahami tulisan dalam jangka waktu 0,06 detik, dengan hiragana とよなか 0,75 detik, dan dengan Romaji TOYONAKA 1,32 detik. Dengan demikian jelas sekali bahwa kanji lebih mudah dimengerti daripada dua huruf yang lainnya. Ini bisa dimaklumi, karena mereka mulai SD belajar hiragana dulu, disusul katakana, setelah itu hamper tiap hari “makan” kanji, dan huruf Romaji mulai dipelajari sekitar mulai kelas empat SD.

Untuk adik-adik mahasiswa yang mengambil bidang S1 bahasa Jepang di tanah air, usahakan dua tahun pertama minimal “harus” bisa menguasai 1000 buah kanji. Usahakan belajar mandiri, tidak menggantungkan perkuliahan di kelas. Kalau tidak, sulit kiranya untuk bisa lolos level dua. Selebihnya bisa dipelajari pada tahun ketiga dan keempat. “Masa emas” belajar kanji ada di tahun kedua dan ketiga. Jangan lewatkan masa itu. Dan untuk belajar kanji, jangan hanya dibayangkan, tapi tangan harus bergerak, mencoret dan mencoret. Dalam televise NHK pernah ditayangkan, ada dua kelompok yang belajar kanji dengan cara yang berbeda. Kelompok yang pertama hanya diajari dan disuruh belajar dengan hanya membaca dan membayangkan. Kelompok kedua diajari dan disuruh membaca sambil mencoret-coret kanji yang menjadi objek pembelajaran. Hasilnya bisa ditebak, kelompok yang dengan mencoret-coret itulah yang hasilnya luar biasa.

Roni (angkt 90)

2 Tanggapan

  1. Salut untuk artikel yang pak Roni postingkan.
    memang Kanji-meskipun jadi momok bagi sebagian pembelajar bahasa Jepang-harus dikuasai sebagai indikator penguasaan bahasa Jepang secara totalitas. yang menjadi pe er kita adalah bagaimana agar pengajaran Kanji yang konvensional bisa lebih inovatif dengan artian bahwa kita harus sadar bahwa Indonesia adalah salah satu pembelajar bahasa Jepang yang non Kanji dan otomatis metode belajar dan pencapaiannya tidak sama dengan para siswa yang bahasa native-nya adalah bahasa Jepang. so para pengajar Kanji, marilah kita berkreasi semaksimal mungkin dan jangan ragu untuk berinovasi.mohon pendapat dari yang lain juga. sayang jika artikel bermutu ini nganggur sekian lama.wassalam

  2. pak ron artikel na keren.kanji honto ni muzukashidesuga omosiroi.kasih tips yach pak, raishu kanji no contesuto wo sankasimasukara.sumimasen nihongo ga hetan desu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: