Momiji, zannen datta!!!!

Musim dingin sudah tiba, dan berlalulah musim gugur. Tapi sayang, aku tidak sempat ryoko untuk menikmati indahnya momiji. Sebenarnya kami sekeluarga sudah berjanji dengan seorang keluarga Jepang yang mau mengantarkan kami untuk ryoko ke Korankei, sebuah tempat yang momijinya cukup terkenal di Aichiken. Tapi tiga hari sebelum hari H, anakku yang kecil opname, dan akhirnya kami memutuskan untuk tidak berangkat ryoko.

p1010842.JPGp1010845.JPGKata momiji kalau ditulis dengan kanji 紅葉. Kanji ini selain dibaca dengan momiji juga dibaca dengan kooyoo. Kalau momiji merujuk pada nama jenis pohon, sedangkan kooyoo merujuk pada daun-daun yang menguning (juga memerah kali ya). Tapi memang jenis pohon yang daunnya menguning paling indah adalah daunnya momiji.

Kata seorang teman Jepang, ketika masuk musimnya momiji harus hati-hati terhadap cuaca yang (mulai) dingin. Melihat momiji sih menyenangkan, tapi dinginnya musim gugur itu mengintai ketahanan kesehatan manusia. Tidak hanya manusia tapi “ketahanan” tumbuhan juga ditembaknya. Dulu pertama kali mendengar musim gugur, yang terbersit di otak adalah banyak “sesuatu” yang gugur dalam arti mati. Dasar otaknya anak kecil ya. Tapi secara semantik sebenarnya tidak jauh-jauh amat salahnya dari kata “mati” itu juga. Yah bisa kita analogikan bahwa ketika musim gugur itu, hampir semua daun-daun menguning dan selanjutnya berjatuhan (bukan berguguran ya he he he) dan mati. Tapi yang mati di sini bukan pohonnya, melainkan daunnya itu sendiri. Ini beda dengan tumbuhan di kampoeng kita yang begitu daunnya berguguran (rontok) selalu diikuti dengan matinya pohon itu.

Tapi tidak apa-apalah kami tidak bisa melihat momiji, yang penting anak sembuh. Toh momiji tahun ini katanya tidak begitu indah karena suhunya berubah-ubah secara zig-zag, tiba-tiba dingin, tiba-tiba hangat, kembali lagi dingin dan seterusnya. Dengan keadaan suhu yang berubah-ubah seperti ini, momijinya tidak bisa terjadi secara serentak. Yah sekedar untuk menghibur diri. Nasib…….nasib!!!????. Siapa yang bisa memperkirakan nasib? Rencana ryoko sudah matang sekali. Tapi kalau sudah berhadapan dengan nasib, siapa yang bisa melawan.

Awal Desember 2006

Roni (’90)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: