Naoetsu eki mae

7 tahun lalu, ketika dinginnya musim aki mulai menusuk. aku sendirian didepan naoetsu eki berharap cemas menunggu taksi. tak sadar pandanganku tertuju pada semua yang ada disekitar stasiun kecil itu. rasa jenuh mulai sirna dengan pemandangan yang menurutku sungguh menakjubkan. dalam kondisi yg sangat bersih dan indahnya stasiun, berlalu lalang lelaki tua muda, perempuan tua muda, lucunya anak anak bermata sipit dan berkulit putih. memambah keindahan suasana. beberapa orang berparas lainpun menambah indah suasana. ada yg berkulit putih tinggi berhidung mancung, pikirku pasti orang eropa, atau rusia, terkadang orang berkulit gelap berambut keriting, pasti orang dari benua afrika, juga orang oang berkulit sawo matang agak pendek hidung ada yg mancung ada yg biasa, begitu beragamnya orang disana. keindahan semakin terasa dengan keberagaman itu. tak terlihat saling meremehkan , memandang sebelah mata ataupun bersinggungan, bahkan kadang beberapa dari mereka bercengkrama dengan tawa tawa kecil, indah sekali. terbayangkan olehku bahwa memang dunia ini dipenuhi dengan keberagaman, dan itu sudah dinyatakan oleh Tuhan, manusia diciptakan dalam keberagaman agar mereka saling mengenal. tapi disisi dunia lain ternyata keberagaman itu telah menimbulkan kesombiongan , kecongkakan, bahkan terkadang pertikaianpun muncul. merasa lebih ini lebih itu, menganggap yang lain lebih buruk, lebih rendah, lebih tidak punya, lebih bodoh dan lebih lebih yg lain.

aku tersentak dari anganku saat sebuah taksi berhenti didepanku. tapi aku tidak ingin menaiki, karena aku masih ingin berpikir, bagaimana jika manusia mau menerima , menghargai , menghormati dan menjaga keragaman dan keberagaman , indah sekali terasa hidup didunia ini. sungguh indah dunia ini dengan keanekaragamannya.

kini aku harus kembali ketujuanku menunggu taksi. tapi aku sebenarnya masih ingin menikmati suasana dingin distasiun ini. didepanku telah berjajar 3,4 taksi berwarna putih bersih, mungkin seputih hati orangh orang yg berlalulalang distasiun ini. aku tetap dalam dudukku, ketika orang orang naik taksi yang sudah stand by, tak sadar aku telah memperhatikan sebuah taksi yang berada paling depan dari deretan. kenapa taksi ini tidak ada yg naiki? kenapa orang orang yg mau naik memilih taksi yg berada dibelakangnya? taksi ini tidak jelek, menurutku juga cukup bagus dan sama dengan yang lain, bahkan sopirnyapun cukup gagah. bukankah karena dia yg paling depan, dialah yg seharusnya akan mendapat rizky duluan. itulah pikiranku , pikiran seorang manusia. sungguh sangat dangkal. mungkin Tuhan punya rencana lain. rizki yg menurut manusia sudah didepan mata ternyata bisa jadi tetunda atau bahkan lenyap. tapi sopir taksi ini kelihatan sabar, dia tidak kelihatan marah atau jengkel. rasanya aku ingin naik taksi itu, tapi aku juga ingin melihat bagaimana akhir cerita taksi itu. jadi aku tidak naik taksi itu. sehingga datanglah sepasang orangh setengah baya menaikinya, berangkatlah taksi itu. datang juga ternyata rizki itu!!. akupun kembali dalam kesendirian. ternyata aku sudah cukup lama menkmati suasana naoetsu eki. akupun harus segera pulang. kembali ke apartment dan menunaikan tugas. aku juga sadar bahwa keberadaanku di stasiun itu juga karena Tuhanku Alloh. dan memang tidak ada didunia ini yang tidak karena Alloh, semua karena Alloh. sudah sewajarnya dan seharusnya keseluruhan hidup kita juga (peruntukkan) karena Alloh.

Muhammad Ikhwan (’89)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: