Aku Terpana

Aku terpana.

“Doozo, suwatte kudasai” kata seorang laki-laki paroh baya kepadaku.

“Arigatoo gozaimasu….. tsugi no eki ni orimasu kara….” jawabku cepat sambil membungkuk-mbukkukkan badanku.

P1010720_2 Ya… ternyata laki-laki Jepang ini perduli dengan kanan kirinya. Mungkin dia tidak tega melihatku sempoyongan di dalam chikatetsu yang sedang melaju sambil menggendong anakku yang kecil, Kennes yang tengah tidur didekapanku. Atau karena aku orang asing?

Dia tetap berdiri memberi kesempatan itu. Saya katakan lagi permohonan maaf “sumimasen”. Namun dia tidak kembali duduk di tempatnya.

Aku sempat terpana dengan tawaran tempat duduk itu. Tapi aku merasa tidak perlu mengorbankan kesempatan dia untuk duduk hanya untuk aku yang 4 menit lagi turun di Sakurayama-eki.

Aku masih teringat betapa pongahnya pemuda Jepang yang membiarkan seorang ibu tua berdiri di hadapannya sambil sempoyongan pada suatu hari, sementara dia sendiri duduk dengan santainya. Yah banyak yang merasakan (terutama di kereta) bahwa orang Jepang sangat dingin dan cuek dengan lingkungannya. Banyak cewek-cewek yang dandan dengan cueknya di kereta, lipenan, bingung ngatur idepe, ngilo (masih untung ndak membawa cermin besar), ngerol rambut, bahkan kalau pagi sarapan di kereta. Untung belum pernah kulihat ada yang sikat gigi di dalam kereta he he he. Looo tapi ada juga yang –mohon maaf– ngesun pacare di dalam kereta….. di samping kanan-kiri penumpang yang penuh sesak. Jan….. dasar tenan kok!.

Masih ada lagi, pakaiane cowok-cewek Jepang semua seperti artis. Iku isih mending. Laa onok cewek sing nggawe celana pendek-ndek, atau rok yang super mini-ni. Padahal suhu di luar sekarang sekitar 8 derajat. Aku pernah ngomong karo ojobku ketika naik kereta bareng “Jo! Nyang kene okeh wong podo shodaqoh yo”. “Endi?” ojobku penasaran. “La iku cewek ayu-ayu podo ngawe rok mini lan suwal endheg mamerke daginge kuwi”. Ojobku ngakak. Wah yen nok surobojo bola-bali disuiti uwong. Ora mung iku okeh sing podo komentar. Yo untung wae iki nok Jepang, yang tentu saja ukuran moralnya beda dengan kita. Atau jangan-jangan dengan gaya pakaian kita, justru kita yang dianggap primitif menurut ukuran moral mereka he he he.

“Pak, hampir mau turun ya” suara anakku sing gedhe, Fira.

“Iya Nduk! Sebentar lagi turun” jawabku sak keneke.

Tapi memang repot juga, aku pernah menawarkan tempat duduk kepada seorang ibu tua (kelihatan sehat) tapi ditolaknya, dan aku merasa malu untuk kembali duduk, sementara dia sendiri tetap berdiri. Bahkan orang-orang Jepang di kanan-kiriku tidak ada yang berani duduk di tempat yang aku tinggalkan. Gengsi? “Mottainai na” pikirku. Mungkin perasaan ini juga yang tengah terjadi dengan lelaki paruh baya yang menawarkan tempat duduk itu. Aku menjadi merasa berdosa dengan dia “Gomen ne,…. Otoosan”. Secara tidak langsung dengan menolak tawarannya, aku telah “mempermalukan” dia di tempat itu.

“Mamonaku Sakurayama desu………..”

Aku terhentak manakala beberapa detik lagi harus turun di Sakurayama-eki. Aku katakan lagi “arigatoo gozaimasu” sebelum aku beranjak keluar kereta sambil tentu saja dengan memasang muka paling manis menurutku, agar “permohonan maaf” dalam hatiku tersampaikan.

Nagoya, 25 Nopember 2006

Roni (angkatan ’90)

2 Tanggapan

  1. yuh…sus….!
    aku penasaran. yok opo iku
    “pasang wajah paling manis”…???
    metomeru kana…???

  2. Assalamualaikum.wr.wb

    Mas roni yang maniiz ^_~, saya lagi penasaran dengan pengelolaan zakat di Jepang. Mas Roni bisa ceritakan ga pengalaman mas roni yang luar biasa itu dan ada gak situs pengelolaan zakat atau Lembaga Amil Zakat di Jepang… Onegai shimasu… Oukini Ronichi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: