Dalam percakapan bahasa Jepang, sering kita dengar istilah kedo, keredo, kedomo, keredomo, bahkan ga yang dalam pemakaiannya sering membingungkan kita sebagai pembelajar. Baiklah dalam tulisan pendek ini hanya hendak menjelaskan tentang beberapa penggunaannya, dan dari sekian itu cukup diwakili oleh kedo saja. Walaupun demikian, dalam penggunaan dapat diterapkan pada empat yang lainnya.
Secara prinsip ada dua jenis kedo, yaitu kedo sebagai kata sambung dan kedo sebagai partikel akhir. Sebagai kata sambung, kedo akan menyambung klausa (kalimat) yang satu dengan klausa yang lainnya. Dan, sebagai partikel akhir, kedo akan selalu berada di akhir kalimat serta mempunyai beberapa arti.
Setidaknya ada enam buah penggunaan kedo, yang akan dijelaskan satu persatu sebagai berikut.
(1) Klausa kedua berlawanan dengan isi yang diharapkan pada klausa pertama
- Kare wa dooryoku shita kedo, shippai shita.
(彼は動力したけど、失敗した)
Pada kalimat di atas, klausa kedua (hasil) berlawanan dengan harapan yang terjadi pada kalimat pertama: sudah berusaha tetapi tidak berhasil alias gagal.
.
(2) Perbandingan
- Ani wa se ga takai kedo, otooto wa se ga hikui.
(兄は背が高いけど、弟は背が低い)
Klausa pertama dan kedua berisi perbandingan tinggi badan antara kakak dan adiknya: kakaknya tinggi, tetapi adiknya rendah.
Penggunaan poin pertama dan kedua, dalam bahasa Indonesia sering menggunakan kata tetapi.
.
(3) “Permohonan maaf” yang diletakkan di klausa pertama.
- Warui kedo, okane o kashite kurenai?
(悪いけど、お金を貸してくれない?)
- Sumimasenkedo, doa o shimete kureru?
(すみませんけど、ドアを閉めてくれる?)
Sebelum mengajukan permintaan seperti pada klausa kedua, pembicara meminta maaf dengan klausa pertama.
.
(4) Penopikan
Dalam membicarakan suatu permasalahan tertentu sering topiknya diangkat terlebih dahulu. Dalam bahasa Indonesia bisa saja disejajarkan dengan “tentang” seperti kalimat berikut.
- Ryokoo no ken da kedo, Kyoto ni iku koto ni kimarimashita.
(旅行の件だけど、京都に行くことに決まりました)
Penggunaan penopikan ini cukup ampuh untuk memulai pembicaraan dalam telpon, surat, maupun konsultasi kepada sensei (he he he pengalaman pribadi), misalnya ashita no koto nan desu kedo……; kaigi no ken desu keredomo…..; sensei, bunkasai no mondai nan desu ga…..; dan lain-lain
.
(5) Penyisipan klausa untuk menambahkan informasi
Dalam satu klausa atau kalimat, kadang kita ingin menambahkan info di dalamnya seperti kalimat berikut.
- Kono mae kashita hon o ashita, moshi muri nara asatte demo iin dakedo, kaeshite kureru?
(この前貸した本を明日、もし無理なら明後日でもいいんだけど、返してくれる)
Dalam kalimat di atas, klausa moshi muri nara asate demo ii dakedo adalah klausa sisipan untuk memberi penjelasan tambahan terhadap ashita.
.
(6) Partikel akhir
Mengenai kedo sebagai partikel akhir ini bisa mempunyai beberapa fungsi sesuai keadaan pembicaraan, misalnya menyatakan perasaan harapan yang berlawanan dengan kenyataan, seperti contoh berikut.
- Neko no kotoba ga ningen ni tsuujiru to ii kedo.
(猫の言葉が人間に通じるといいけど)
Bisa juga untuk melembutkan akhir kalimat sehingga terasa lebih sopan.
- Ano…. kata ni itokuzu ga tsuite imasu kedo.
(あの。。。肩に糸くずが付いていますけど)
- Okyakusan, moo heiten jikan nan desu kedo.
(お客さん、もう閉店時間なんですけど)
Bisa juga untuk menyatakan kadar perbandingan terhadap klausa atau kalimat sebelumnya.
- Kao wa oboe ga arun da kedo.
(顔は覚えがあるんだけど)
.
Walaupun secara garis besar bisa digambarkan penggunaan kedo (dan konco-konconya; keredo, kedomo, keredomo, ga) seperti di atas, tetapi pada percakapan sebenarnya kadang kita kesulitan memasukkan penggunaan yang mana kedo yang dimaksud.
Semoga tulisan pendek yang jauh dari ilmiah ini bisa menjelaskan sedikit tentang penggunaan kedo (dan teman-temannya).
Tatabahasa bahasa Jepang yang lain bisa diklik di S I N I
Roni (90)
DIarsipkan di bawah: Tatabahasa Bahasa Jepang | Ditandai: kedo, keredomo, tentang kedo
