Profil Didik Nurhadi

Didik Nurhadi

.

.


.

.

Nama Lengkap
Didik Nurhadi, S.Pd., M.Pd
Tempat tanggal lahir
Bojonegoro, 21 April 1976
Keluarga
- Nama Istri   : Dewi Marfu’ah
- Nama Anak : Rorusman Jadid Nurhadi
Riwayat Pendidikan
- Pendidikan Bahasa Jepang Unesa (Sarjana) Lulus th.2000
- Pendidikan Bahasa Jepang UPI Bandung (Magister) lulus th 2003
- Pendidikan Bahasa Hiroshima University (Masuk 2008-sekarang)
Riwayat Pekerjaan
- Staf Pengajar Pend. Bahasa Jepang Unesa (2003-sekarang)
- DLB Untag (2006/2007)
Jurnal
- Metafora dalam bahasa Jepang (Verba tahun…??)
Makalah
1. 1999   Idiom Majas Perumpamaan dan Metafora dalam bahasaJepang
2. 2001   Analisi Idiom Majas Metafora dalam Komik Berbahasa Jepang
3. 2002   Panitia Seminar Nasional Pendidikan dan Budaya Jepang UPI
4. 2002   Pemakalah dalam Seminar International Unpad Bandung
“Pemaknaan Majas Metafora Bahasa Jepang”
5. 2003   Analisis Makna Idiom Majas Metafora dalam Bahasa Jepang
6. 2004   Pemakalah dalam Seminar International Unpad Bandung
7. 2005   Pemakalah dalam Seminar International Gakkai Jatim
“Makna “tokoro” dalam bahasa Jepang”
8. 2007  Pemakalah Seminar International Unpad Bandung
“Nilai Budaya dalam Pemaknaan Majas”
Penelitian
-  2000  “Makna Majas dalam Komik Chibimarukochan, oishinbo, ….. ” (skripsi)
- 2003   “Analisis Makna Idiom Majas Metafora dan Pemaknaannya dalam Bahasa Indonesia” (Thesis)
-  2007   “Majas Perumpamaan dan Metafora Bahasa Jepang” (Penelitian DIPA Unesa)
-  2008  “Ambiguitas Makna dalam Minna no Nihongo” (Penelitian Dosen Muda Dikti)
Pengabdian Kepada Masyarakat
- Pelatihan Bahasa Jepang untuk pegawai instansi pemerintahan propinsi Jawa Timur th 2005
- idem (th 2006)
- idem (th 2007)
- Pelatihan percakapan dasar Bahasa Jepang bagi pelaku dunia bisnis (P3ED) th 2006
- Idem th.2007
Pengalaman Organisasi
- Kepengurusan HMPP Jurusan pendidikan Bahasa Jepang
- Kepengurusan PPI Korwil Hiroshima

Cebok dan Tangan Kiri

Mohon maaf kalau kali ini saya bercerita tentang sesuatu yang sedikit jorok. Tapi jorok atau tidaknya sebenarnya tergantung ke persepsi kita. Ini semua hanya salah satu masalah kecil dalam pembicaraan frem budaya Jepang dan Indonesia.

Beberapa waktu yang lalu ketika ikut borantia pengumpulan dana untuk beasiswa anak-anak Indonesia, saya bertemu dengan seorang teman lama. Dia bercerita bahwa dia diundang untuk mengajar bahasa Jepang di Indonesia. Rupa-rupanya dia kuatir sekali dengan keadaan toilet di Indonesia.

Seperti sudah kita ketahui bersama bahwa orang Jepang kalau cebok memakai kertas tisu dan sebaliknya kita menganggap bahwa kalau hanya dengan tisu kurang bersih, yang bersih itu ya cebok pakai air. Di sini terjadi semacam perbedaan pandangan tentang arti bersih dalam hubungannya dengan cebok-mencebok itu. Di satu pihak dalam pandangan kita kalau hanya dengan tisu itu tidak bersih tapi sebaliknya bagi orang Jepang justru kalau kena air akan “beta-beta” kotor. Dalam Islampun rupanya ada semacam “derajat” bahwa kalau berwudhu ya pakai air, kalau ndak ada air ya bertayamum entah pakai pasir atau debu. Kalau tisu dapat kita sejajarkan dengan pasir maka tisu itu derajatnya lebih rendah daripada air. Tapi pikiran pembaca jangan dibawa kearah cebok dengan pasir ya he he he.

Selain itu, jangan sekali-kali menjelaskan kepada teman Jepang kita untuk membuang tisu ke toilet di Indonesia, bisa berakibat fatal. Toilet macet. Saya ndak tahu, mungkin konstruksi saluran toilet ke tempat pembuangan berbeda antara Jepang dan Indonesia. Di masyarakat umum Indonesia, toilet memang tidak didesaign untuk dapat dibuangi tisu.

Kembali ke laptop. Setelah saya jelaskan kenapa orang Indonesia mantap bercebok dengan air dan terasa bersih seperti di atas, teman Jepang saya itu memakluminya. Toh juga dihanduki, mungkin dia mencernanya seperti itu. Satu lagi yang membuat jijik dalam sudut pandang budaya Jepang adalah bersentuhannya secara langsung antara tangan dan bokong (maaf untuk mengganti istilah dubur). Seperti kita ketahui juga bahwa Jepang berusaha menghindari memegang makanan dengan tangan secara langsung, melainkan sebisa mungkin memakai sumpit. Oleh karena itu, kebanyakan orang Jepang sulit menerima kebiasaan makan dengan tangan. Pikirku kalau dibayangkan saja memang demikian, tapi sudah banyak pula orang Jepang di Indonesia yang bisa merasakan enaknya makan dengan tangan.

Demikian juga, dunia sentuh menyentuh ini juga berlaku dalam hal cebok. Jangan sampai tangan menyentuh bokong secara langsung. Diutarakannya bahwa kalau orang Indonesia kalau cebok, sambil menyiram air kan tangan bersentuhan langsung dengan bokong untuk membersihkannya. Orang Jepang berusaha menghindari hal ini. Oleh karena itu, digunakanlah tisu untuk membatasi diantaranya. Mungkin dalam sudut pandang kita, pakai tisupun kan tetap tangan bersentuhan dengan bokong, meskipun secara tidak langsung he he he.

Nah untuk menjauhkan atau meminimalkan peran tangan terhadap bokong ini, Jepang sudah mengembangkan tehnologi toilet duduk yang serba otomatis. Lihat saja di rumah-rumah,  manshion-manshion modern ataupun kampus, toiletnya sudah dilengkapi dengan peralatan yang juga modern. Sayapun sering membayangkan jika toilet kampus itu ada di apartemen saya betapa nikmatnya he he he. (Maklum apartemen saya apartemen tua)  Dengan sekali sentuh kotoran di WC mengalir sendiri, dengan sekali sentuh pula ada air muncrat yang tertuju ke bokong kita untuk membersihkannya, tanpa perlu mendekatkan jari jemari kita ke bokong, kekencengan airnyapun bisa diatur. Tidak itu saja, untuk mengeringkannya juga cukup sekali sentuh WC duduk itu akan mengeluarkan hawa hangat untuk mengeringkan air yang masih nempel di bokong. Kalau musim dingin tiba, kita malas untuk membuka sebagian penutup tubuh kita. Tidak demikian halnya dengan toilet ini. Begitu kita duduk, hawa hangat juga keluar secara otomatis memenuhi ruang dalam badan toilet duduk ini. Luar biasa bukan………..

Kembali ke laptop. Tangan bersentuhan ke bokong dan akibatnya kotor adalah hanya persepsi saja.  Persepsi yang sudah membudaya. Toh setelah kita cebok, tangan juga kita cuci dengan sabun pula. Tapi memang persepsi kotor ini tetap akan mengelabuhi pikiran orang Jepang dan juga orang Indonesia. La bagaimana tidak, sejak kecil kita sudah diajari oleh orang tua kita untuk membedakan peran antara tangan kiri dan tangan kanan. Tangan kanan untuk makan, untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Jangan pernah memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kiri kita, tidak sopan. Iya to. Sebaliknya tangan kiri punya peran utama untuk cebok itu tadi, dan karena berhubungan dengan cebok maka tangan kiri kita anggap derajatnya lebih rendah daripada tangan kanan. Akibatnya yang berhubungan dengan tangan kiri dipersepsikan tidak sopan, menghina, dan hal jelek sejajar lainnya. Kita sudah berlaku tidak adil terhadap dua tangan kita. Tapi, ya bagaimana lagi, wong sudah menjadi budaya.

Sebaliknya kalau di Jepang, karena kedua-duanya dianggap tidak kotor, maka memberi sesuatu kepada orang lain baik dengan tangan kanan maupun dengan tangan kiri ya sama saja. Tidak ada pembedaan peran antara tangan kiri dan kanan seperti halnya kita. Inipun juga budaya. Kita tidak boleh mengukur budaya Jepang dengan budaya kita, demikian juga sebaliknya.

Bagaimana hubungannya dengan kodrat, ada orang yang diciptakan dengan orang kidal? Artinya tangan kiri lebih kuat, dominan dari pada tangan kanan. Embuh, pikiren dewe……….

Salam,

Roni ‘90

Jepang Kini: Perawat

Melanjutkan pembicaraan tentang permasalahan yang menjadi PR bagi Jepang.

Jepang setelah perang dunia ke 2, akhirnya dalam istilah pewayangan “masuk kotak”. Beberapa tahun setelah itu, mau ngerjain apa masyarakatnya. La wong, wis kalah perang. Pertahanan ke luar diurusi oleh militer Amerika. Ya…. akibatnya “sering tidur” di rumah, yang menyebabkan “mala petaka” (mosok ginian kok mala petaka he he he) banyak anak: booming anak. Akibatnya jumlah penduduk Jepang meningkat tajam. Dan anak-anak yang lahir  setelah perang itu sekarang sudah tua, menjadi manula dan sakit-sakitan, sehingga butuh perawatan.

Sementara itu akhir-akhir ini pemuda Jepang sekarang jumlahnya sedikit akibat dari shoshika 少子化, kecilnya jumlah kelahiran anak yang terjadi 20 tahun terakhir. Jumlah manula Jepang data 2007 adalah 4.530.000 orang. Sedangkan perawat yang khusus mengurusi manula ini berjumlah 1.250.000 orang. Dan, akibat dari apa saya ndak tahu, satu orang perawat dari setiap empat orang perawat mengundurkan diri tiap tahunnya. Padahal jumlah ideal perawat khusus manula ini adalah 2.500.000 orang.

Wah repot juga. Apalagi gaji sebagai perawat manula ini tidak menjanjikan. Jika rata-rata seorang sarariman menerima bayaran 3 juta yen per tahun atau tiap bulannya 250.000 yen (sekitar 25 juta rupiah), maka perawat khusus untuk manula ini hanya mendapatkan 1.9 juta yen atau kurang dari 160.000 yen (sekitar 16 juta rupiah). Dari gaji ini, jika untuk biaya apartemen 50 ribu yen saja sisanya 110 ribu yen untuk keperluan yang lainnya, ya makan, telpon, air, gas, pacaran, dsb. Mana cukup? Kapan nabungnya untuk mengkredit rumah? Mungkin inilah yang mengakibatkan banyak perawat yang mengundurkan diri.

Akhir-akhir ini didatangkan perawat dari Indonesia. Bukannya tidak ada masalah. Perawat Indonesia itu harus mempelajari bahasa Jepang. Padahal untuk menjadi perawat di Jepang harus mendapatkan sertifikat perawat, standar Jepang. Dan, untuk lulus agar mendapatkan sertifikat itu bukan perkara gampang. Katanya hanya beberapa orang saja yang diperkirakan bisa lulus. Belum lagi masalah, Jepang harus membayar ke organisasi internasional apa begitu (yang saya tidak paham organisasi apa itu) terkait datangnya perawat ke Jepang ini. Padahal untuk mengurangi pengangguran di Indonesia, saya berharap Jepang banyak mengambil perawat dari Indonesia he he he. Walaupun pemikiran saya itu juga sebenarnya bermasalah. La bagaimana, yang didatangkan ke Jepang itu kan perawat berpengalaman di Indonesia. Artinya perawat yang bisa mendaftar ikut seleksi ke Jepang harus punya pengalaman menjadi perawat di Indonesia. La terus kalau perawat berpengalaman pada ke Jepang, yang di Indonesia kan hanya kebagian sisa perawat-perawat yang baru lulus, yang harus mengajari macam-macam sejak awal. Komaru desho.

Nagoya, Ramadhan 2009

Roni

Jepang Kini: Pangkalan Militer Amerika

Melanjutkan perbincangan di TV Jepang.

Kenapa di Jepang, khususnya yang sering kita dengar di Okinawa ada pangkalan militer Amerika? Mosok Jepang negara modern dan kuat secara ekonomi mengijinkan tempatnya ditempati pangkalan militer Amerika? Sampai sekarang lagi.

Setelah Jepang kalah pada perang dunia ke 2, maka semua senjata yang dimiliki oleh militer Jepang dilucuti. Dan Jepang harus menanda-tangani perjanjian tentang tidak diperbolehkannya memiliki militer. Oleh karena itu prajurit Jepang sekarang dinamakan pasukan bela diri. Tapi masak sebuah negara tidak memiliki militer, ndak mungkin kan. Bagaimana kalau ada negara yang menyerang Jepang. Dalam perjanjian itu Amerika sebagai pemenang perang juga memasukkan poin bahwa untuk melindungi Jepang, Amerika akan membuat pangkalan militer di Jepang. Jadi prinsip dasar keberadaan pangkalan itu adalah untuk melindungi Jepang dari ancaman serangan negara lain.

Ada berapa pangkalan militer yang ada di Jepang? Ada 85 tempat pangkalan militer di Jepang. Dari jumlah itu 33 buah berada di Okinawa. Jadi yang terbesar di Okinawa. Sebenarnya pangkalan ini berada hampir di seluruh Jepang, tapi yang di luar Okinawa kecil-kecil. Bisa dibayangkan bisingnya Okinawa oleh suara jet-jet tempur Amerika. Konon untuk menyuplay peralatan perang Amerika melawan Vietnam waktu itu juga menggunakan landasan militer di Okinawa ini. Weleh, weleh, weleh……..

Ada berapa sih militer Amerika di pangkalan militernya di Jepang? ada sekitar 9.800 orang. Kalau ditambah dengan keluarganya menjadi sekitar 12.000 orang. Bisa dibayangkan, ini berapa desa dengan jumlah penduduk sekian itu. Jadinya memang di dalam area pangkalan itu dibangun sekolah, supermarket, gedung olah raga, tempat bowling, dsb untuk “menghidupi” roda kehidupan di situ dan kebutuhan prajuritnya. Uang yang digunakan untuk jual-beli bukan yen melainkan dolar. Jadi, suasananya kayak kota di Amerikalah. Hanya saja sipil tentu saja tidak boleh masuk di area itu, kecuali yang memang bekerja misalnya di supermarket yang berada di pangkalan itu.

Jet-jet tempur supercepat yang dimiliki Amerika tiap hari berterbangan, entah dari Amerika, atau Hawai. Dari Okinawa sampai Hawai hanya ditempuh dengan 2,5 jam. Bagaimana cepatnya ya. Jadi bisa dibayangkan jika Korea Utara menyerang Jepang, maka dalam waktu tidak lebih dari satu jam, pesawat-pesawat tempur Amerika sudah bisa menyentuh bagian Jepang yang dekat dengan negara itu. Weleh… weleh…. weleh.

Setelah terjadi pemerkosaan terhadap cewek Jepang oleh tentara Amerika, warga Jepang Okinawa berharap agar pangkalan militer itu secepatnya dipindah dari Jepang. Tapi apakah bisa secepat itu? Mestinya kan ada perjanjiannya sampai kapan, terus biayanya kalau pindah bagaimana dsb. Embuhlah, begitu saja yang saya tangkap tentang pembicaraan masalah Pangkalan Militer di Amerika yang ditayangkan di chanel 11 TV Jepang, pada tanggal 8 September 2009.

Nagoya, Ramadhan 2009

Roni

Jepang Kini: Kemandirian Pangan

Melanjutkan pembicaraan sebelumnya.

Kemandirian pangan di Jepang itu bagaimana sih? Kemandirian pangan itu sendiri konon merujuk pada semua hal tentang produksi pangan yang dalam hal ini dilakukan oleh Jepang. Jepang terkenal dengan negara yang sangat proteksi terhadap beras dalam negerinya. (Tapi harus diakui bahwa beras Jepang itu rasanya memang jempolan he he he).

Kalau saya pergi ke supermarket, sering saya dapati sayur murah, ikan murah, daging murah…… eh ternyata hampir semuanya impor. Kalau sayur, ikan, daging, dll yang mahal…. itu pasti produksi dalam negeri Jepang. (Walaupun mahal, memang berkualitas sih)

Ternyata kemandirian (swasembada) pangan Jepang itu hanya 41%. Artinya barang-barang yang berhubungan dengan makanan di pasar Jepang itu yang produksi dalam negeri Jepang hanya 41%. Wah…. kalau Jepang tidak baik-baik dengan negara asal impor bahan makan bisa bahaya. Kalau terjadi perang, misalnya dengan Cina yang merupakan pengekspor besar bahan makanan ke Jepang, maka dipastikan berbuntut distopnya ekspor, kalau bahan makanan yang masuk ke Jepang distop, bagaimana Jepang mengisi perut masyarakat dan tentaranya. Bahaya kan.

Di ilustrasikan bahwa mie Jepang itu kemandirian pangannya hanya 23%. La bagaimana lagi, wong gandumnya impor juga. Hanya memang betul mengolahnya menjadi mie di Jepang, tapi bahannya kan dari luar. Apalagi udang, hanya 5%. Di pembicaraan itu dikemukakan juga bahwa bahan dari semangkuk tempura udon, yang berasal dari dalam negeri Jepang hanya 26%-nya. Terus diilustrasikan juga kalau makan siang hanya mengandalkan produksi dalam negeri maka hanya terdiri dari nasi, ikan kecil, dan ubi. Ini sekali makan ya. Kalau yang dimakan seperti itu katanya sama dengan makanan yang disajikan di restoran-restoran jaman Edo, weleh… weleh… weleh.

Tapi masyarakat Jepang sekarang kan bukan seperti pada jaman Edo. Sekarang masyarakat Jepang sudah banyak yang beralih ke steak, kalau makan pagi dengan roti dan keju, terus berbagai ramen juga dimakannya. La di antara makanan itu kan ndak ada nasinya. Dengan masuknya budaya makan yang seperti itu maka kebutuhan beras menurun.

Masalah beras di Jepang juga menjadi masalah yang cukup pelik. Konon masalah pertanian di negara manapun selalu mendapatkan perhatian nomor satu dari pemerintahnya. Di Indonesia bagaimana ya? La wong jadi petani di Indonesia tidak menjanjikan he he he. Enaknya jadi petani di Jepang. La gimana, harga beras di Jepang itu adalah yang tertinggi di Jepang, rata-rata 10 kali lipat dari harga beras di negara lain.

Konon ketika jaman perang, pemerintah menyuruh masyarakatnya untuk menanam padi sebanyak-banyaknya. Dan semua padi itu akan dibeli oleh pemerintah. Yah tahu sendirilah, untuk menyokong perang. Kalau prajuritnya maju perang tanpa makan mana bisa menang? Tapi setelah PD II Jepang tidak hanya makan beras. Seperti sudah disinggung di atas, masuklah makanan-makanan Eropa yang sama sekali tidak menyentuh bahan dari beras. Karena kelebihan beras, dan untuk menjaga harga beras agar tetap stabil (artinya tetap mahal, kasihan kan petaninya kalau berasnya dijual murah) maka pemerintah mengintruksikan kepada sebagian petani untuk tidak menanam padi. Dan sebagai gantinya pemerintah membayar ganti rugi kepada petani padi yang jumlahnya per tahun mencapai 2000 oku yen. Jumlah yang tidak sedikit. Enak to menjadi petani di Jepang?

Tapi sekarang banyak pemuda Jepang yang tidak mau jadi petani, maunya jadi sarariman saja. Ini menjadi permasalahan tersendiri di Jepang. Terus akibatnya, Jepang mengimpor beras dari luar. Tapi untuk tetap menjaga harga beras dalam negeri, Jepang mengenakan pajak masuk yang sangat tinggi. Dengan pajak masuk tinggi, maka beras imporpun harganya juga melambung to. Belum lagi biaya gudang penyimpanannya yang juga tinggi. Suhunya kan harus stabil, kalau musim panas didinginkan, kalau musim dingin dihangatkan, belum lagi biaya agar beras tidak bau apek atau digerogoti kutu beras to. Nah, masyarakat tinggal pilih beras yang mana? Dengan harga yang relatif sama, tapi beras Jepang kan lebih enak to.

Konon yang bisa mencapai kemandirian pangan mencapai 100% itu Perancis. Makanya Indonesia belajar ke Perancis saja agar bisa swasembada pangan.

Nagoya, Ramadhan 2009

Roni

Jepang Kini: Menuju Penggratisan Tol

Tadi melihat TV di chanel 11. Dibahas permasalahan-permasalahan Jepang mendasar dalam hubungannya dengan kemenangan Partai Demokrat, partai yang didominasi oleh kaum muda Jepang. Ada empat permasalahan mendasar yang dibahas dalam bincang santai di TV itu yaitu penggratisan jalan tol, kemandirian pangan, pangkalan militer Amerika, dan perawat. Semuanya ini dibahas dalam rangka PR untuk pemerintahan baru.

Empat permasalahan ini akan dikemukakan di sini dalam empat judul (satu-satu ya). Semoga saja bahasa Jepang saya tidak keliru dalam menangkap isi perbincangan itu. Kesan pertama tentang acara TV itu adalah betapa permasalahan yang dibahas itu sulit tapi penyajiannya begitu sederhana. Bahkan orang-orang yang diajak ngobrol itu adalah orang awam yang tidak tahu permasalahan berat yang dihadapi Jepang. Saya berharap TV Indonesia bisa membuat program obrolan diselingi penyajian data yang amat sederhana, sehingga orang awampun bisa mengerti permasalahan yang sedang dibahas.

Dalam tulisan pendek ini akan mengulas beberapa poin yang sempat saya catat tentang penggratisan jalan tol di Jepang. Rupanya penggratisan tol ini menjadi program utama yang dikemukakan oleh partai Demokrat ketika kampanye.

Pembangunan jalan tol di Jepang sudah dimulai pada tahun 1956. Biaya pembangunan diperoleh dari Bank Dunia. Jalan tol pertama yang dibangun itu adalah Tomei (Tokyo-Nagoya) dan Meishin (Nagoya-Osaka???). Kenapa ketika lewat jalan tol harus membayar, padahal kalau lewat jalan biasa tanpa bayar. Tentu saja jawaban sederhananya adalah untuk membiaya pembangunan jalan tol itu. Betul. Jepang harus mengembalikan pinjaman Bank Dunia untuk pembangunan tol tersebut.

Sebenarnya pembayaran hutang Jepang kepada Bank Dunia sudah lunas pada tahun 1990, tapi kenapa sampai tahun ini kalau masuk tol masih harus tetap membayar? Ternyata kebijakan Jepang waktu itu adalah uang tol setelah tahun 1990 itu digunakan untuk membangun tol di seluruh Jepang. Dan tentu saja dengan uang tol itu tidak dapat untuk membangun tol seluruh Jepang, akibatnya Jepang masih harus mengutang. Mengutang kepada siapa? Kepada Masyarakat Jepang sendiri. Uang mana yang diutang untuk membangun tol itu. Jawabannya adalah uang “nganggur” yang ada di Bank Pos (yubin chokin). Hutang Jepang saat ini kepada masyarakat Jepang adalah 31 oku yen. 31 oku yen itu berapa nolnya…. embuh itungen dewe. (Uang yang ada di Bank Pos Jepang keseluruhan adalah 304 oku yen).

Konon utang untuk pembangunan tol di seluruh Jepang ini, pemerintah baru akan bisa melunasinya sampai tahun 2050. Waduh suwene rek.

La terus. Katanya jalan tol oleh partai demokrat akan digratiskan, mbayarnya pakai apa? Ya Apalagi kalau bukan dari pajak. Logikanya di mana? Kalau jalan tol digratiskan, biaya pengangkutan (yang tentu saja memakai jasa jalan tol) akan turun. Kalau biaya angkut turun otomatis barang-barang akan murah. Artinya, sandang pangan akan amat terjangkau oleh masyarakat Jepang. Tapi mekanismenya bagaimana?  Embuh, yang jelas ndak dibahas dalam perbincangan itu. Kita disuruh melihat saja bagaimana pemerintahan baru Jepang (by Demokrat) akan mengelola masalah penggratisan jalan tol ini.

Nagoya, Ramadhan 2009

Roni

QUALIFIER BAHASA JEPANG BERDASARKAN JENIS PREDIKAT: DALAM HUBUNGANNYA DENGAN JODOOSHI

Berikut ini abstrak tulisan Pak Lurah yang dimuat di Jurnal Online PPIJ “INOVASI ONLINE” Vol. 14/XXI/Juli 2009. Bagi yang mau membaca secara keseluruhan silakan klik di: http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=329 (agak sedikit mojibake)

Bagi yang mau donwload untuk referensi rombun silakan klik di: http://io.ppi-jepang.org/article.php?edition=14

.

QUALIFIER BAHASA JEPANG BERDASARKAN JENIS PREDIKAT : DALAM HUBUNGANNYA DENGAN JODOOSHI

Oleh: Roni

Abstrak

Bahasa-bahasa di dunia dibedakan menjadi bahasa VO dan bahasa OV. Bahasa Indonesia adalah jenis bahasa VO dan bahasa Jepang merupakan bahasa OV. Ada konstituen modifier yang mempunyai peran khusus hanya menerangkan arti konstituen inti yang mengisi V predikat. Modifier itu disebut qualifier (Q). Letak qualifier adalah sebelum V pada bahasa VO dan setelah V pada bahasa OV, jadi Q-V-O atau O-V-Q. Terdapat dua syarat untuk menjadi konstituen qualifier dalam bahasa Jepang yaitu pertama, konstituen yang bersangkutan harus menyatu dengan konstituen inti dalam predikat membentuk konstruksi frasa predikat. Kedua, karena berbentuk konstruksi frasa, di antara konstituen qualifier dan konstituen inti dalam predikat tersebut tidak diperkenankan penyisipan oleh konstituen lain yang besarnya sejajar dengan fungsi sintaksis. Berdasarkan jenis kata pengisi predikat dalam bahasa Jepang, qualifier dapat dibedakan menjadi qualifier predikat verba, qualifier predikat adjektiva, dan qualifier predikat nomina.

Kata-kata kunci: qualifier, kata bantu predikat, tipologi bahasa

Penelitian tentang bahasa Jepang yang lain klik di S   I   N   I

Pembelajaran Kotowaza By Zaenal Sensei

Berikut ini pembelajaran kotowaza lewat power point oleh Zaenal sensei. Monggo yang berminat menghapalkan kotowaza silakan didownload. Klik tulisan di bawah ini ya.

Kotowaza Jepang Zaenal Sensei

Salam,

Urip Zaenal Fanani (82)

Hi Matsuri (2/2)

Hi Matsuri berhubungan dengan OBON. Tentang tujuan obon seperti sudah saya bicarakan di Hi Matsuri (1/2). Pada tulisan ini saya mau bercerita tentang hi matsuri 火祭り yang kedua yang saya kunjungi malam itu.

Setelah sorenya sekitar waktu magrib, kita melihat tradisi penjor dan bakar “kemenyan” di atas genting, saya dan keluarga diajak masuk sedikit ke pelosok gunung. Waktu sudah gelap gulita. Penerangan tidak begitu ada, saya ndak tahu apakah karena akan ada hi matsuri yang akan saya lihat ini, kok terasa lampu listrik tidak kelihatan. Hanya di beberapa tempat ada penerangan dan dari jauh kelap-kelip. Sebentar terang karena berpapasan dengan lampu mobil lain. Akhirnya kita masuk di area parkir pegunungan. Sekali lagi gelap. Tapi dari lampu mobil kelihatan sekali kalau mobi yang diparkir di parkiran ini sangat banyak. Mobil sekian banyaknya, tapi tidak ada orang, hanya ada dua orang mengatur mobil untuk parkir, orang-orang itu pada ke mana? Untung teman Jepang, Pak Kamiya membawa lampu senter.

Kita diajaknya menelusuri jalanan gelap menuju lokasi. Begitu masuk area tempat akan berlangsungnya acara hi matsuri, kita dibuatnya terkejut. Di depan mata saya terpampang lapangan yang cukup luas, tapi di samping kanan saya adalah area makam, ……. ya kuburan. Kembali lagi ingatan ini ke masalah obon. Obon berhubungan dengan arwah………, arwah orang meninggal…….. ya kuburan he he he.

Walaupun di area kuburan tapi tidak mengurangi minat para kameraman untuk mendirikan tripotnya yang besar-besar itu mengelilingi lapangan tempat akan berlangsungnya hi matsuri. Ya……… lapangan ini diberi pembatas tali mengelilingi lapangan. Dan di luar tali itulah sudah berderet penuh tripot-tripot para fotografer dan kameraman. Di dalam area yang dikelilingi tali itu dinyalakan penerangan yang berasal dari kayu bakar, seperti foto berikut.

DSC_0083blog

Pikirku, kita ini mau melihat hi matsuri dari mana, la wong semuanya sudah penuh dengan tripot. Ternyata, walaupun hi matsuri ini berada di tengah-tengah gunung tapi dikejar para fotografer dan kameraman. Hi matsuri ini salah satu matsuri yang cukup langka dan karena berhubungan dengan api, diadakan malam hari. Ini malam, kalau ngambil fotonya hanya dengan tangan, hasilnya kebanyakan akan bergetar, kabur. Bener juga, dari sekian ratus foto yang saya ambil, tidak lebih dari sepersepuluhnya yang saya anggap bagus. “Untuk itu diperlukan tripot, Kang”, nyesel banget.

Acara hi matsuri dimulai pukul sembilan tepat. Sebelum itu di pojok lapangan diadakan bon odori 盆踊り. Kesan saya sederhana sekali tapi alami. Mungkin bon odori yang sebenarnya seperti ini kali ya.

DSC_0088blokDi tengah-tengah barisan orang yang menari banyak didirikan ikatan jerami. Jerami yang panjangnya mencapai 3 meter ini dianyam, dan di dalamnya dimasukkan rumput kering. Ikatan jerami itu yang akan digunakan dalam hi ondori火踊り dan hi matsuri nanti. Tidak lupa, anakku yang besar Fira, Pak Kamiya, dan Fathiyahsan (alumni Unitomo Surabaya) ikut dalam tarian bon odori.

DSC_0099blogJam sembilan kurang dua puluh menit, bon odori selesai. Jerami-jerami diangkat dan diletakkan di lapangan yang sudah dibatasi dengan tali tadi. Lihat foto berikut.

DSC_0112blogNamanya hi matsuri, jadi selalu ada unsur apinya. Ikatan-ikatan jerami itu tentu dibakar. Setelah lama menunggu, kok ndak dibakar-bakar, kapan membakarnya. Kita semuanya menunggu. Tiba-tiba dari kejauhan terdapat nyala api besar yang menuju ke area ini. Lihat foto berikut.

DSC_0114blogSelain ikatan jerami yang diberdirikan di lapangan, ada lagi ikatan jerami yang dibakar dan dibawa masuk ke lapangan, sambil diiringi musik: “dug, dug, jleng…. dug, dug, jleng…..” Ingatan ini kembali pada suasana seperti dalam dongeng nenek tentang orang-orang mencari anak yang digondol gondoruwo atau gendruwo. Katanya kalau mendengar musik seperti itu, gendruwo yang menculik anak kecil itu akan melepaskannya dan menari-nari gembira. Ketika anak masih dalam genggaman tangan gendruwo, anak itu tidak kelihatan. Begitu dilepaskan konon anak itu kelihatan secara kasat mata. Ah…… ada-ada saja dongeng simbah ini……..

DSC_0120blogSeperti terlihat di foto atas. Paling belakang adalah barisan orang-orang yang memikul ikatan jerami yang sudah dibakar, di barisan paling depan adalah tetua yang membawa api utama. Api utama itu tidak berasal dari korek api modern. Melainkan berasal dari penggesekan dua batu api oleh tetua dalam hi matsuri itu. Di belakang rombongan tetua, dibunyikan musik tradisional di antaranya taiko (bedug), seruling, dan ndak tahu apa namanya seperti yang digunakan oleh penari dalam hi matsuri (1/2). Alunan musiknyapun mirip, “dug, dug, jleng…… dug, dug, jleng……”, hanya saja ditambahkan seruling.

DSC_0121blogSetelah semua orang-orang yang memikul jerami yang sudah dibakar itu masuk, maka dimulailah tarian api 火踊り. Pikulan api itu mulai diputar-putar oleh si pemikul.

DSC_0127blogTidak lupa, musik berjalan terus. Kalau tidak ada musik tidak ada tari, begitulah kira-kira. Dan tentu saja, teriakan-teriakan si pemikul mewarnai meriahnya, hingar bingarnya tari, juga terbersit di sana sebuah suasana mencekam.

DSC_0130blog“Dug, dug, jleng….. dug, dug, jleng…..”. Bukan hanya yang dewasa, yang anak-anak selalu diikutkan dalam matsuri. Beginilah salah satu cara melestarikan budaya leluhur: ikutkan anak-anakmu untuk menjadi penerusmu. Beda dengan ludruk dan ketoprak yang kurang begitu melibatkan anak-anak, katanya “yang menjual anaklah”, “belum waktunyalah”, dsb. Malahan ada kesan, “anak-anak kok melihat ludruk, ketoprak”. Justru untuk melestarikan budaya leluhur harus melibatkan anak-anak, entah sekedar untuk melihat atau bahkan menjadi salah satu pelaku di dalamnya. Bukannya begitu, saudara?

DSC_0135blogDemi keselamatan bersama, namanya juga api, kalau sudah menjadi kan sulit dipadamkan, makanya sebelum sulit dipadamkan……. ya bawalah semprotan yang diisi air. Di punggung orang ini adalah kantong besar yang berisi air, sewaktu-waktu diperlukan dipompa untuk disemprotkan. Tapi di luar lapangan ini, agak sedikit jauh juga sih, sudah siap sedia mobil pemadam kebakaran.

DSC_0142blogSemakin lama, para penari api semakin menjadi. Pikulan api diputar-putar terus……..

DSC_0151blogDiputar……

DSC_0164blogDiputar terus…. mungkin dia mengalami suasana yang disebut trandensental dalam menari?

DSC_0172blogYa…. mungkin…… Apinya menjilat-jilat bagaikan ular mengamuk, eh bukan, bagaikan buto ijo mengamuk……

DSC_0227blogHalah, capek. Duduk dulu. Sempat memotret keluarga dari belakang. Capek juga ternyata……

DSC_0244blogSetelah sekian lama kita memutuskan untuk pulang, bisa kemalaman di jalan. Sebelum pulang takpotrete dari celah-celah orang yang berdesakan ya….

DSC_0310blogAkhirnya kita pulang bersama……. Sampai rumah jam satu malam.

Salam,

Roni (90)

Hi Matsuri (1/2)

Beberapa waktu yang lalu keluarga kami diantarkan oleh seorang teman Jepang, Pak Kamiya ke HI MATSURI 火祭り di sebuah desa terpencil yang berada di kota kecil Shinshiro-shi wilayah Aichi-ken. Ada dua hi matsuri yang kita kunjungi. Dan keduanya berhubungan dengan OBON. Obon biasanya berhubungan dengan OHAKA MAIRI, atau istilah kita nyekar ke makam leluhur atau bahasa Tulungagungnya “geren”.

Obon jatuh pada tanggal 14, 15 Agustus tiap tahunnya, dan ditetapkan sebagai hari libur nasional. Dipercaya oleh seluruh masyarakat Jepang bahwa ketika obon, arwah leluhur pulang ke rumah. Dan pada waktu itulah dilakukan nyekar. Untuk mengantarkan arwah kembali ke asalnya, di beberapa tempat masih terjaga dengan rapi ritual pengantar arwah ini. Dua di antaranya seperti yang akan saya ceritakan dalam foto secara terpisah.

Upacara atau ritual obon pertama saya lihat di sebuah kampung yang besarnya kira-kira sepedukuhan. Dan sepanjang perjalanan, sepertinya hanya kampung situ saja yang masih melakukan ritual itu. Di depan rumah dinyalakan api penjor atau blencong, seperti foto di bawah ini.

DSC_0017blogSedikit ironis. Di tengah-tengah masyarakat Jepang yang sedemikian modern ini masih ada ritual penjor seperti ini. Penjor ini mengingatkan saya pada bulan ramadhan di kampung halaman. Dulu ketika penerangan malam masih menggunakan “dimar gaspon”, setiap bulan ramadhan tiba, masyarakat kampung saya selalu membuat penjor yang kita nyalakan di rumah kita masing-masing. Sekarang setelah malam terang benderang oleh listrik, tradisi penjor itu hilang entah ke mana.

Beberapa hari setelah ritual ini kebetulan di Indonesia masuk bulan ramadhan. Sebelum bulan ramadhan biasanya masyarakat Jawa mengadakan tradisi slametan yang disebut dengan megengan. Prinsip dasar acara slametan adalah shodakoh atau dalam bahasa Jawanya “sedekah”. Slametan, sesuai dengan asal katanya bertujuan agar orang atau keluarga yang mengadakan slametan itu mendapatkan slamet atau selamat. Di acara itu selalu ada kenduri, oleh karena itu disebut juga dengan kendurian atau bahasa Jawanya “gendoren”. Dalam acara slametan ini selalu mengundang tetangga kanan-kiri. Ada tiga tahap yang dilakukan dalam kendurian. Pertama, ada seorang tetua yang mengucapkan tujuan kendurian, kedua ada seorang kyai yang membaca doa secara Islam, dan ketiga setelah didoai, makan bersama. Makan kenduri bersama tetangga kanan kiri, atau secara kasar dapat diistilahkan dengan memberi makan kepada tetangga kanan kiri inilah yang dimaksud sedekah. Setelah acara slametan yang disebut dengan megengan ini biasanya orang yang mengadakan kendurian akan melakukan ziarah kubur atau nyekar tadi. Saya tidak tahu apakah prinsip dasar megengan dan ritual di Jepang yang sedang saya bicarakan ini mempunyai unsur kesamaan ya?

Kembali ke laptop. Selain penjor, ada juga yang membakar jenis kayu tertentu di atas genting, dan menaburinya sesuatu yang saya menganggapnya semacam “kemenyan” seperti foto berikut ini.

DSC_0018blogYang saya rasakan, kampung itu baunya kas sekali ketika itu, entah karena barang yang dibakar itu, atau bau kayu-kayu dari tukang kayu yang berada di sekitar itu, kebetulan ada beberapa tempat tukang kayu di daerah itu.

Tradisi ini mirip dengan nyadran di Jawa. Tapi saya lebih teringat kepada tradisi bakar kemenyan di Jawa. Pada waktu-waktu tertentu (misalnya malam Jumat Kliwon), atau ketika punya gawe (pernikahan, sunatan, dll), orang Jawa sering mengundang dukun untuk “memagari” rumahnya dari mara bahaya (ada juga yang dilakukan sendiri). Ketika itu ada yang menggunakan media bakar kemenyan. Dan caranya mirip dengan foto di atas, bakar sesuatu di atas genting.

Saya tidak tahu, apakah bakar kemenyan ini berasal dari tradisi Budha ya? Yang jelas tradisi Jepang seperti foto di atas konon adalah tradisi dari agama Budha yang ada di Jepang. Budha yang berkembang di Jepang ini menjadi aliran tersendiri. Oboosan dalam Budha di Jepang diperbolehkan menikah dan punya anak. Kepala sekolah TK anak saya adalah seorang oboosan juga, beristri dan beranak. Dia sangat santun dan bijak sekali ketika berbicara.

Masih dalam hubungannya dengan mengantarkan arwah, selama dua hari berturut-turut dilakukan upacara yang berupa tarian seperti foto di bawah ini. Tarian ini sebenarnya mengiringi rombongan oboosannnya yang masuk rumah untuk berdoa.

DSC_0019blogTarian ini dilakukan di depan rumah dua orang warga dalam satu hari selama kurang lebih 20 menitan. Jadi dalam satu tahun akan ditampilkan empat kali, dengan cara bergiliran dari rumah ke rumah warga berdasarkan kesepakatan.

DSC_0040blogSelama dua puluh menitan itu juga, beberapa penarinya harus memanggul beban yang kelihatannya tidak ringan. Yang khas dari tarian ini adalah kostum yang dipakai para penarinya dan musiknya. Kostum tarinya seperti terlihat di foto, empat di antaranya diharuskan memanggul semacam sayap raksasa. Di sayap itu tergambar simbol tiga penguasa pada jaman dulu. Sedangkan musiknya sangat khas sekali, terdengar “dug, dug, jleng……. dug, dug, jleng…..” terus menerus.

DSC_0045blogMendengar musiknya tarian ini mengingatkan saya pada dongeng nenek saya di kampung tentang bagaimana caranya mencari seorang anak yang digondol gondoruwo. Mendengar musik “dug, dug, jleng….. dug, dug, jleng…..” seperti itu saya merinding campur takut persis seperti saya waktu kecil mendengarkan dongeng nenek tentang gondoruwo itu. Saya tidak tahu, kenapa musiknya mirip dengan cerita nenek. Apakah musik-musik yang berhubungan dengan arwah dan dunia gaib itu mempunyai keuniversalan ya? Wallohua`lam.

Setelah selesai menari, beban dipunggung itu diturunkan. Seperti foto di bawah ini.

IMG_0827blogSaya mencoba untuk mengangkat sayap itu. Ternyata cukup ringan. Yang membuatnya berat adalah karena tiupan angin. Kalau kebetulan ada tiupan angin, mereka harus menahan sayap-sayap itu agar tidak ambruk. Agar bisa membayangkan seberapa lebar, seberapa besar sayap-sayap itu, saya menyuruh keluarga untuk berada di antaranya, seperti foto di bawah ini.

DSC_0070blog

Ritual tarian ini biasanya diadakan menjelang matahari tenggelam sampai keadaan menjadi betul-betul gelap. Hal ini tentu saja berhubungan dengan penjor yang akan kelihatan menyala ketika menjelang matahari tenggelam.

Salam,

Roni (90)